Sebelum diutus sebagai rasul, Nabi Muhammad s.a.w. dipercaya untuk meredam gejolak perpecahan diantara kaum Quraisy.

Beliau diminta menjadi penengah diantara kaum, saat fanatisme kesukuan mengakar kuat dalam jiwa mereka.

Beliau ditunjuk untuk mengambil kebijakan yang bisa mempererat hubungan yang mulai retak tergerus keegoisan.

Padahal, saat itu beliau terhitung paling muda diantara mereka, karena saat itu beliau masih berumur 35 tahun.

Situasi itu terjadi saat kaum Quraisy berdebat, siapa yang akan meletakan Hajar Aswad setelah renovasi Ka’bah rampung dilakukan. Karena, masing-masing suku ingin tokoh merekalah yang melakukan tugas mulia itu.

“Besok, siapa yang datang paling pagi, dialah yang berhak meletakkan Hajar Aswad ini,” kata Muhammad membuat mereka semua terdiam.

Keesokan harinya, ternyata orang yang paling pagi datang adalah Nabi Muhammad s.a.w., hingga beliau berhak meletakkan batu Hajar Aswad tersebut.

Namun, hatinya yang lapang dan jiwanya yang bijaksana, menahan beliau untuk melakukan itu seorang diri, beliau menggelar sorban dan meletakkan Hajar Aswad di atasnya, kemudian memanggil tokoh-tokoh dari setiap suku untuk mengangkatnya bersama-sama.

Dan ketegangan yang mengancam persatuan kaum Quraisy itu, bisa diredam dengan sifat mulia dari pemuda tampan, cerdas dan bijaksana, junjungan kita Nabi Muhammad s.a.w.

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah ini. Meski sering kita dengar, namun tetap tak bosan untuk menceritakan dan mendengarkannya.

Advertisements