surgaIbnu Al Hajj[1] rahimahullahu berkata: Ada seorang murid yang biasa menghadiri majelis salah seorang guru spiritualnya, lalu dia berhenti, dan tidak lagi mendatanginya. Karena lama tak datang, sang guru pun menanyakan keadaannya. Teman-temannya menjawab, “Dia dalam keadaan sehat.” Maka, diapun mengutus seseorang untuk memanggilnya.

“Mengapa kau tak lagi menghadiri majelisku?” tanya sang guru kepada muridnya.

“Dulu aku hadir agar aku bisa wushul (sampai kepada Allah), dan sekarang aku telah wushul, sehingga aku tidak perlu lagi datang,” jawab sang murid dengan penuh percaya diri.

Lantas gurunya menanyakan kepada sang murid tentang caranya wushul. Dia pun memberitahukan bahwa setiap malam dia shalat dan dibawa ke surga.

“Wahai anakku, janganlah kau masuk ke surga kecuali bersamaku. Sudilah kiranya engkau membawaku agar bisa memasukinya,” ujar sang guru untuk mengetahui kebenaran dari penjelasan muridnya.

“Baik,” jawab sang murid singkat.

Maka, guru itupun menginap di rumahnya. Setelah Isya, datanglah seekor burung yang berhenti di depan rumahnya.

“Burung inilah yang membawaku setiap malam ke surga,” terang sang murid kepada gurunya.

Lantas guru dan murid itupun menaiki burung tersebut, lalu terbang beberapa saat, dan berhenti di suatu tempat yang banyak pepohonan yang rindang. Kemudian sang murid berdiri untuk menunaikan shalat, sementara gurunya hanya diam duduk mengawasinya.

“Wahai guru, mengapa kau tidak shalat pada malam ini?” tanya sang murid penasaran.

“Wahai anakku, ini adalah surga, sementara di surga tidak ada lagi shalat,” jawab sang guru.

Tanpa mempedulikan ucapan sang guru, diapun terus menunaikan shalat, sementara sang guru tetap duduk.

Setelah fajar terbit, burung yang tadi membawanya datang lagi dan turun.

“Marilah kita kembali ke rumah kita,” ajak sang murid kepada gurunya.

“Duduklah! Aku tidak melihat seorang pun yang masuk surga dan keluar darinya,” jawab sang guru untuk menahannya pergi.

Burung itupun mengepakkan sayapnya seraya berkicau keras menunjukkan kepada mereka, bahwa tanah tersebut bergetar karena mereka.

“Marilah kita pergi agar tidak terjadi apa-apa dengan kita,” bujuk sang murid.

“Burung ini menipumu, ia ingin mengeluarkanmu dari surga,”

Lantas sang guru pun membaca Al Qur`an, lalu burung tersebut pergi. Mereka berdua tetap di tempat tersebut sampai matahari terbit dan bersinar terang. Ternyata keduanya berada di tempat sampah dan kotoran.

Melihat kejadian itu, sang guru pun menampar muridnya seraya berkata, “Inikah surga yang kau datangi? Syetanlah yang mengantarmu kemari. Berdirilah dan marilah kita pulang, kemudian hadirlah ke masejlisku bersama teman-temanmu.”[2]

Referensi: Karamatul Auliya`, karya Al-Lalika`i, hal. 31-32.

[1] Ibnu Al Hajj adalah Muhammad bin Muhammad Al Maliki Al Fasy, warga Mesir yang asalnya dari Maghrib (Maroko). Dia menunaikan haji lalu kembali ke Mesir dan menetap di Mesir sampai wafat pada tahun 737 H.

Lih. Ad-Durar Al Kaminah (4/237)

[2] Lih. Al Madkhal, karya Ibnu Al Hajj (3/215-216).

Advertisements