anjing-herder-3Ada sepuluh sifat yang terpuji dalam diri anjing, dan sepantasnya orang mukmin memilikinya, yaitu:

1. Tidak pernah puas atau kenyang. Ini adalah sifat orang shalih yang tidak pernah merasa puas atau kenyang dengan kebajikan yang telah dia lakukan.

2. Tidak pernah tidur malam kecuali hanya sebentar. Ini adalah sifat orang yang selalu melakukan shalat malam atau Tahajjud.

3. Bila mondar-mandir di depan rumah majikannya (untuk menjaga rumahnya) walaupun sampai seribu kali dalam sehari, sedikitpun dia tidak akan berhenti beristirahat. Ini adalah tanda-tanda orang yang tulus melaksanakan perintah Allah s.w.t..

4. Ketika mati tidak meninggalkan kotoran. Ini adalah tanda-tanda orang zuhud (menganggap remeh dunia). Ketika dia meninggal dunia sedikitpun tidak ada orang yang merasa pernah diambil haknya atau teraniaya, meninggalpun dalam keadaan bersih tanpa meninggalkan fitnah (kerusakan) dibelakangnya.

5. Tempatnya di tanah, yaitu tempat yang paling rendah. Ini adalah tanda-tanda orang yang ridha dengan semua ketentuan Allah s.w.t..

6. Terus mamandangi orang yang melihatnya, sampai dia dilempari makanan. Ini adalah akhlak orang miskin, tidak meminta-minta atau memaksa seseorang agar memberinya.

7. Bila diusir dan ditaburi debu, dia tidak marah dan dendam. Ini adalah akhlaknya orang-orang yang merindukan Allah s.w.t. yang tidak peduli pada keadaan di sekitarnya, buta, tuli dan bisu terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya.

8. Bila tempatnya ditempati oleh yang lain, maka dia akan meninggalkan tempatnya dan pergi mencari tempat lain. Ini adalah perbuatan orang yang terpuji.

9. Bila diberi sesuap makanan, dia akan memakannya dan merasa cukup dengan sesuap makanan tersebut. Ini adalah tanda-tanda orang yang qana’ah.

10. Bila bepergian, tidak membawa bekal. Ini adalah tanda-tanda orang yang tawakkal kepada Allah s.w.t.

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Qs. Aali Imraan [3]: 191)

Referensi: Kasyifatussaja, karya Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar Al Jawi, hal. 73, Darul Kutub Al-Islamiyah.