luar batang tour2Nama lengkapnya Habib Husain bin Abu Bakar bin Abdullah bin Husain bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Husain bin Abdullah Alaydrus.

Habib Husain bin Abu bakar Alaydrus dilahirkan di Yaman Selatan, tepatnya daerah Hadhramaut, tiga abad yang silam. Beliau dilahirkan sebagai anak yatim, dan dibesarkan oleh seorang ibu. Sehari-harinya beliau hidup dari hasil memintal benang pada perusahaan tenun tradisional. Husain kecil sungguh hidup dalam kesederhanaan.

Sejak kecil sang ibu sudah menitipkan Habib Husain kepada seorang “Alim sufi”; disanalah beliau menerima tempaan thariqah. Diantara murid-murid yang lain, tampak Habib Husain memiliki perilaku dan sifat yang lebih dari teman-temannya. Setelah beranjak dewasa; setiap ahli thariqah senantiasa memiliki panggilan untuk melakukan hijrah, dalam rangka mensyiarkan Islam di belahan bumi Allah. Untuk melaksanakan keinginan tersebut, Habib Husein tidak kekurangan akal, beliau bergegas menghampiri para kafilah dan musafir yang sedang bertransaksi jual-beli di pasar pada setiap hari Jum’at.

Setelah dipastikan mendapatkan tumpangan dari salah seorang kafilah yang hendak bertolak ke India, Habib Husain segera menemui ibunya untuk meminta izin. Walau dengan berat hati, sang ibu harus melepaskan dan merelakan kepergian putranya. Habib Husein mencoba membesarkan hati ibunya dengan berkata,
“Janganlah takut dan berkecil hati ibu, apapun akan aku hadapi. Senantiasa bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesungguhnya Dia bersama kita.”

Menyuburkan kota Gujarat

Hijrah pertama yang disinggahi oleh Habib Husain adalah daratan India, tepatnya di kota Gujarat. Kehidupan kota tersebut bagaikan kota mati, karena dilanda bencana kekeringan dan wabah kolera. Kedatangan Habib Husain di kota tersebut disambut oleh ketua adat setempat, kemudian beliau dibawa menghadap kepala wilayah serta beberapa penasehat paranormal, dan Habib Husein diperkenalkan sebagai titisan dewa yang dapat menyelamatkan negeri itu dari bencana yang sedang melanda.

Habib Husein menyanggupi bahwa dengan pertolongan Allah, beliau akan merubah negeri itu menjadi negeri yang subur, dengan syarat mereka mau mengucapkan dua kalimat syahadat dan menerima Islam sebagai agama. Syarat tersebut juga mereka sanggupi dan berbondong-bondong warga di kota itu belajar agama Islam.

Akhirnya mereka diperintahkan untuk menggali sumur dan membangun sebuah kolam. Setelah keduanya dapat diselesaikan, maka dengan kekuasaan Allah turun hujan yang sangat lebat, membasahi seluruh daratan yang tandus. Sejak itu pula tanah yang kering berubah menjadi subur, dan pemandangan kering kerontang menjadi hijau menyejukkan. Sedangkan warga yang terserang wabah penyakit dapat sembuh dengan cara mandi di kolam tersebut. Demikian kota yang dahulunya mati, kini secara berangsur-angsur masyarakatnya menjadi sejahtera.

Hijrah ke Wilayah Asia Tenggara

Tidak lama kemudian, beliau melanjutkan misi hijrahnya menuju wilayah Asia tenggara, hingga sampai di Pulau Jawa, dan menetap di kota Batavia (sebutan kota Jakarta tempo dulu).

Batavia adalah pusat pemerintah Belanda, dan pelabuhannya Sunda kelapa. Pada tahun 1736 M datanglah Habib Husain bersama para pedagang dari Gujarat di pelabuhan Sunda kelapa. Disinilah persinggahan terakhir dalam menyiarkan Islam. Beliau mendirikan surau sebagai pusat pengembangan ajaran islam. Beliau banyak dikunjungi bukan saja dari daerah sekitarnya, melainkan juga datang dari berbagai daerah untuk belajar islam atau banyak juga yang datang untuk didoa’kan.
Pesatnya pertumbuhan dan minat orang yang datang untuk belajar agama islam ke Habib Husain mengundang kekhawatiran dari pemerintah VOC, yang dipandang akan mengganggu ketertiban dan keamanan. Akhirnya Habib Husein beserta beberapa pengikut utamanya dijatuhi hukuman dan ditahan di penjara Glodok.

Tembok dan terali besi tidak dapat menghentikan peran Habib Husein dalam mensyiarkan Islam. Walau di krangkeng tahanan, beliau tetap mengajarkan ayat-ayat Al Qur’an dan tuntunan Islam. Setelah penguasa hukum Belanda melihat karomah Habib Husain, mereka menjadi gentar dan akhirnya beliau dan para pengikutnya dibebaskan.

Kampung Luar Batang

Gubernur Batavia sangat penuh perhatian kepada Habib Husain. Dia menanyakan apa keinginan beliau, namun beliau menjawab tidak menginginkan apa-apa. Akan tetapi Gubernur tetap menghadiahkan beliau sebidang tanah di kampung baru, sebagai tempat tinggal dan peristirahatan yang terakhir. Habib Husain dipanggil dalam usia muda, ketika berumur kurang lebih 30-40 tahun. Meninggal pada hari Kamis, tanggal 17 Ramadhan 1169 H bertepatan tanggal 27 juni 1756 M. sesuai dengan peraturan pada masa itu, bahwa setiap orang asing harus dikuburkan di pemakaman khusus yang terletak di Tanah Abang,
Sebagaimana layaknya, jenazah Habib Husain diusung dengan kurung batang (keranda). Ternyata sesampainya di pekuburan, jenazah Habib Husain tidak ada dalam kurung batang.

Anehnya jenazah Habib Husain berada di tempat semula. Dalam bahasa lain jenazah Habib Husein keluar dari kurung batang. Pengantar jenazah mencoba kembali mengusung jenazah Habib Husain ke pekuburan yang dimaksud. Namun demikian jenazah Habib Husain tetap saja keluar dan kembali ke tempat semula.
Akhirnya para pengantar jenazah memahami dan bersepakat untuk memakamkan jenazah Habib Husain di tempat yang merupakan rumah beliau tersebut. Kemudian orang-orang menyebutnya “Kampung Baru Luar Batang.” Dan kini lebih dikenal sebagai “Kampung Luar Batang.”

(Dikutip dari buku Riwayat Singkat & Karomah Al Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus, karya Sayyid Abdullah bin Abu Bakar Alaydrus)