Pengertian dan Tujuan niat

Secara etimologi niat adalah tujuan (Qashd), sedangkan secara terminologi niat adalah menyengaja untuk melakukan sebuah amalan. Jadi, niat dalam shalat adalah menyengaja untuk melakukan shalat dengan menyebutkan jenis shalatnya (wajib atau sunnah) agar bisa membedakannya dengan amalan-amalan yang lain. Tempat niat adalah hati dan dilakukan bersamaan dengan takbiratul ihram.

Kalimat dalam niat bebas, tidak harus menggunakan kata “ushalli”, niat dengan menggunakan kata “nawaitu” juga tidak masalah. Bahkan niat dengan menggunakan bahasa selain bahasa Arab juga boleh, karena niat adalah amalan hati bukan Qira`ah (bacaan dalam shalat), sehingga tidak berpengaruh terhadap keabsahan shalat.

Pelafalan Niat

Pada dasarnya pelafalan niat (talaffuzh binniyah) dalam shalat ada perbedaan pendapat diantara Imam madzhab. Pertama, sunnah agar ucapan lisan dapat membantu memantapkan hati dalam niat ibadah. Pendapat ini diikuti oleh ulama fikih Hanafiyah dalam pendapat yang mukhtar, ulama fikih Asy-Syafi’iyah, dan ulama fikih Hanbali. Kedua, makruh, pendapat ini diikuti oleh sebagian ulama fikih Hanafiyah dan sebagian ulama fikih Hanbali. Ketiga, boleh (mubah), akan tetapi sebaiknya ditinggalkan. Kecuali bagi orang yang waswas, maka melafalkan niat disunnahkan baginya, untuk menghilangkan keraguannya. Demikian pendapat para ulama fuqaha madzhab empat tentang hukum melafalkan niat dalam ibadah.

Dalil yang dijadikan landasan oleh para ulama yang menganjurkan untuk melafalkan niat adalah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu Alaihi wa Sallam berkata (ketika hendak menunaikan ibadah haji dan umrah), ‘Aku penuhi panggilan-Mu untuk menunaikan ibadah umrah dan haji’.” (HR. Muslim).

Hadits di atas jelas sekali menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaih wa Sallam melafalkan niat ketika beliau hendak melakukan haji dan umrah. Kemudian para ulama yang menganjurkan untuk melafalkan niat men-qiyas-kan hal ini dengan niat dalam shalat. (Sebenarnya ada beberapa hadits yang dijadikan dalil dalam hal ini). Sedangkan sekelompok orang yang menilai bid’ah dan sesat tentang pelafalan niat berdasarkan kaidah “Laa qiyaasa fil ‘ibadaat (tidak ada qiyas dalam ibadah)” jelas bertentangan dengan para ulama yang menjadikan qiyas sebagai salah satu sumber hukum agama Islam (sesuai dengan posisi qiyas itu sendiri).