cinta abu bakarSetiap manusia pasti memiliki kelebihan masing-masing, yang akan diingat sampai kapapun apabila orang lain menyebut namanya. Abu Bakar al-Shiddiq adalah sosok pribadi yang gigih dalam memperjuangkan agama Allah, berjiwa besar, dermawan, pemaaf, rendah hati, berani mengambil tindakan, cerdik serta memiliki pendirian yang kuat di balik sifat lemah lembut dan sabarnya itu, beliau juga salah satu sahabat yang dijamin masuk surga  dan sahabat pertama yang menjadi pemimpin umat Islam setelah Rasulullah s.a.w. wafat.

Abu Bakar al-Shiddiq dalam mengatur pemerintahan -meskipun tidak lama- siasatnya terkenal dengan semboyan “Keras tak dapat dipatahkan, lemah lembut tapi tak dapat disudu”. Hukuman belum dijatuhkan sebelum pemeriksaan memuaskan hatinya, sebab itu beliau menghimbau kepada wakil-wakilnya ditiap-tiap negeri supaya jangan tergesah-gesah menjatuhkan keputusan (hukum). Salah menghukum seseorang hingga tidak jadi terhukum, lebih baik dari pada salah hukum yang menyebabkan orang yang tidak bersalah sampai terhukum.[1]

Abu Bakar adalah salah satu sahabat yang sangat akrab dengan Nabi Muhammad s.a.w., banyak riwayat yang menjelaskan tentang kedekatan Nabi Muhammad s.a.w. dengan beliau, Nabi s.a.w. bersabda:

لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا، لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ، وَلَكِنْ أَخِي وَصَاحِبِي

“Kalau saja aku boleh mengangkat seorang khalil (kekasih) selain Allah, niscaya aku akan memilih Abu Bakar sebagai kekasih. Akan tetapi dia adalah saudaraku dan shabatku”.[2]

Dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari ayahnya, ia berkata: Pernah seorang wanita mendatangi Nabi s.a.w., kemudian Nabi menyuruhnya kembali datang menghadapnya. Maka wanita itu bertanya, “Bagaimana jika kelak aku datang, namun tidak lagi menjumpai-mu (maksudnya adalah ketika Nabi sudah wafat)?”. Maka Nabi Muhammad s.a.w. menjawab, “Jika engkau tidak menjumpaiku, maka datangilah Abu Bakar”.

Abu Darda’ berkata: Aku sedang duduk bersama Nabi s.a.w. tiba-tiba datanglah Abu Bakar sambil menjinjing ujung pakaiannya hingga terlihat lututnya, maka Nabi s.a.w. bersabda, “Sesungguhnya teman kalian itu sedang kesal, maka berilah salam padanya”. Kemudian Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, antara aku dengan Ibnu al-Khattab terjadi perselisihan, maka aku segera mendatanginya untuk meminta maaf, aku mohon kepadanya agar memaafkan aku. Namun dia enggan menerima permohonan maafku, karena itu aku datang menghadapmu. Rasulullah s.a.w. menjawab, “Semoga Allah mengampunimu, wahai Abu Bakar” (Nabi mengulanginya sebanyak tiga kali). Tidak lama kemudian Umar menyesal, karena tidak mau memaafkan Abu Bakar, kemudian ia mendatangi rumahnya, dan bertanya, “Apakah di dalam ada Abu Bakar?”. Keluarganya menjawab “tidak ada”. Umar segera mendatangi Rasulullah s.a.w., sementara wajah Rasulullah terlihat merah karena marah. Abu Bakar merasa kasihan melihat Nabi dan Umar, hingga akhirnya Abu Bakar berkata kepada Raasulullah sambil duduk di atas kedua lututnya, “Wahai Rasulullah, demi Allah sebenarnya akulah yang bersalah, (beliau mengulanginya sampai dua kali). Maka Rasulullah s.a.w. bersabda:

إِنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي إِلَيْكُمْ فَقُلْتُمْ كَذَبْتَ، وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ صَدَقَ، وَوَاسَانِي بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَهَلْ أَنْتُمْ تَارِكُوا لِي صَاحِبِي

“Sesungguhnya aku telah diutus Allah kapada kalian, namun kalian mengatakan, “Engkau pendusta”. Sementara Abu Bakar berkata, “Engkau benar”. Setelah itu ia membelaku dengan jiwa dan hartanya. Lalu apakah kalian tidak jera menyakiti sehabatku?”. (Nabi mengulanginya sampai dua kali). Dan setelah kejadian itu, Abu Bakar tidak pernah disakiti lagi.[3]

Masih banyak lagi riwayat yang menjelaskan tentang kedekatan Nabi Muhammad s.a.w. dengan Abu Bakar al-Shiddiq yang tidak mungkin penulis sebutkan semuanya dalam buku ini.


[1] Hamka. Op. Cit, hlm. 13

[2] Muhammad bin Ismail Abu Abdillah al-Bukhari. Shahih Bukhari, Dar Thauq al-Najah, Juz V, hlm. 4

[3] Muhammad bin Ismail Abu Abdillah. Ibid. Juz. V, hlm. 5