perang badar1. Peroses Pembai’atannya

Setelah Nabi Muhammad s.a.w. wafat pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal 11 H./8 Juni 632 M. tampuk kepemimpinan Pemerintah Madinah diserahkan secara demokratis kepada Abu Bakar al-Shiddiq, setelah melalui perdebatan yang begitu panjang dan sengit antara kaum muslimin, baik Anshar maupun Muhajirin di Saqifah Bani Sa’idah.[1] Sebelum jasad Nabi Muhammad s.a.w. dimakamkan, ada sebagian umat Islam yang mengusulkan untuk segera memilih pengganti Nabi, demi kemaslahatan umat. Sehingga dalam masalah ini muncul-lah tiga pendapat.

Pendapat pertama: Pengganti (khalifah) Nabi Muhammad s.a.w. harus dari keturunan Bani Hasyim dan juga kerabat dekat Nabi, seperti Abbas bin Abdil Muththalib (paman Nabi dari ayah), Ali bin Abi Thalib dan Uqail bin Abi Thalib (keduanya adalah sepupu Nabi). Pendapat kedua: Pengganti Nabi Muhammad s.a.w. hendaklah dari kaum Anshar, karena kaum Anshar-lah yang telah membela Nabi s.a.w. dan mempertahankan agama Allah s.w.t. sehingga mereka mendapat gelar al-Anshar (pembela). Setelah Nabi Muhammad s.a.w. wafat pemuka kaum Anshar berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah dan mereka sepakat, baik dari Bani Aus maupun Bani Khazraj untuk mengangkat Saad bin Ubadah sebagai khalifah Rasul s.a.w., karena beliau adalah kepala kaum Anshar pada saat itu.  Pendapat ketiga: Khalifah Nabi Muhammad s.a.w. seharusnya dari orang Quraisy (muhajirin), karena orang Quraisy telah diakui kepemimpinannya oleh seluruh bangsa Arab, sebab merekalah yang menjadi penjaga Ka’bah secara turun-temurun. Orang Quraisylah yang pertama kali menyambut kedatangan Islam, dan sejak Islam mulai tumbuh pemuda-pemuda pilihan dari Quraisy-lah yang telah menyatakan iman dan memahami betul ajaran yang dibawa oleh Nabi s.a.w..

Pendapat ketiga ini adalah pendapat para sahabat terdekat Nabi s.a.w. seperti Abu Bakar, Umar, Utsman dan sahabat-sahabat senior lainnya. Oleh sebab itu mereka sangat terkejut mendengan berita bahwa kaum Anshar telah berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah untuk membicarakan siapa yang pantas menjadi pengganti Rasulullah s.a.w., padahal jasad beliau belum dimakamkan.

Abu Bakar, Umar, Utsman dan sahabat senior yang lain dari golongan Muhajirin langsung mendatangi Saqifah Bani Sa’idah, ketika mereka mendengan kabar, bahwa orang-orang Anshar telah berkumpul di sana. Mereka berpendapat bahwa kaum Anshar tidak berhak menjadi pengganti Rasulullah s.a.w., walaupun mereka mengakui kemuliaan kaum Anshar dan perjuangan mereka dalam membela Islam.

Baru sampai di Saqifah Bani Sa’idah Abu Bakar langsung berpidato:

“Allah s.w.t. telah memilih Muhammad sebagai Rasul-Nya, membawa petunjuk dan kebenaran. Sehingga diajaklah kita kepada Islam dan dipeganglah ubun-ubun kita sehingga hati kita ikut terpengaruh dengan seruan tersebut. Kami-lah kaum Muhajirin yang pertama memeluk Islam, kamilah keluarga terdekat Rasulullah dan kami-lah suatu kabilah yang boleh dikatakan menjadi pusat perhubungan semua kabilah di tanah Arab ini, tidak ada satu kabilahpun yang tidak memiliki hubungan dengan kami. Dan kalian (kaum Anshar) juga memiliki kelebihan dan kemuliaan, kalianlah yang telah membela dan menolong kami, kalianlah wazir-wazir besar kami dan Rasulullah dalam memperjuangkan agama ini, kalianlah saudara kandung kami di bawah lindungan kitabullah, kalianlah kongsi kami dalam agama, baik di waktu senang maupun susah. Demi Allah tidak ada kebaikan yang kita dapati, melainkan semua kebaikan itu kalianpun ikut serta menanamnya. Kalianlah orang yang sangat kami cintai, paling kami muliakan dan orang-orang yang pantas takluk kepada kehendak Allah mengikuti akan perintah-Nya. Janganlah kalian dengki kepada saudara kalian (Muhajirin), sebab kalianlah sejak dulu orang yang sudi menderita kemelaratan demi membela kami. Sungguh aku percaya bahwa haluan kalian masih belum berubah kepada kami, kalian masih tetap cinta kepada Muhajirin. Aku percaya kalian tidak akan menghalangi kaum Muhajirin, sungguh aku percaya kalian tidak akan dengki kepada kami. Sekarang aku berseru kepada kalian untuk memilih salah seorang dari dua sahabat ini, yaitu Abu ‘Ubaidah dan Umar, aku yakin keduanya sanggup memikul tanggung jawab ini (menjadi khalifah) dan keduanya memang ahlinya”.

Setelah Abu Bakar berpidato, Habbab bin al-Mundzir berkata, ”Wahai sekalian Anshar, pegang teguhlah hak kalian, seluruh manusia di pihak kalian dan membela kalian, seorang pun tidak akan ada yang berani melangkahi hak kalian. Tidak akan dilanjutkan pekerjaan seseorang, jika kalian tidak ikut campur di dalamnya. Kalian yang memiliki kegagahan dan kemuliaan, kaya dan banyak bilangan, teguh dan banyak pengalaman, kuat dan gagah perkasa. Seseorang tidak akan melangkah maju, sebelum ia melihat langkah kalian. Janganlah bercerai-berai, agar maksud kita tidak terhalang. Kalau mereka tidak memperdulikan juga, biarlah mereka memiliki pemimpin sendiri dan kita juga memiliki pememimpin sendiri.

Mendengar kata-kata itu, Umar langsung berdiri dan berkata: “Jangan. Kata itu jangan sekali-kali disebut. Tidak mungkin dapat terhimpun dua pemimpin dalam satu kekuasaan”. Habbab pun berdiri dan berkata kepada orang Anshar agar tidak mendengarkan perkataan Umar. Kemudian dengan tenang Abu Ubaidah tampil ke depan dan berkata, ”Kaum Anshar! Ingatlah, bahwa kalianlah yang mula-mula menjadi pembela dan penolong, dan jangan kalian pula yang mula-mula menjadi pemecah dan pemusnah.

Orang terpandang dari golongan Anshar keturunan Bani Aus, Basyir bin Saad, maju ke depan dan dengan lantang ia berkata, “Wahai kaum Anshar, memang demi Allah, kita mempunyai kelebihan dan keutamaan dalam perjuangan yang telah ditempuh oleh agama ini. Tapi ingatlah, pekerjaan agung itu kita lakukan bukan semata-mata mengharap yang lain, yang kita harapkan hanyalah ridha Allah dan taat kepada Rasul-Nya. Sebab itu, tidak pantas jika kita memanjangkan ucap menyebut-nyebut jasa itu, hanya untuk mendapatkan kemuliaan di dunia. Ingatlah, bahwa Allah telah banyak memberikan kita kemuliaan, dan ingat pula, bahwa Muhammad itu dari golongan Quraisy, kaumnya lebih berhak untuk menjadi pemimpin kita. Demi Allah. Aku tidak mendapatkan satu jalan untuk menentang mereka untuk perkara yang sudah jelas ini. Takutlah kepada Allah, dan janganlah bertingkah dan berselisih dengan saudara-saudara kita muhajirin”. [2]

2. Pembai’atan dan Pidatonya yang Pertama.

Sesaat situasi dalam majelis itu reda. Lalu Abu Bakar berkata, “Ini ada Abu Ubaidah dan Umar. Mana yang kalian kehendaki dan pilihlah salah satu dari mereka”. Tapi kedua-duanya menolak untuk dibai’at, mereka berdua sepakat, bahwa Abu Bakar lah yang lebih pantas memangku jabatan tertinggi pada masa itu. Karena beliau adalah salah satu orang yang pertama masuk Islam, orang yang bersama Nabi ketika berada dalam gua dan beliaulah orang yang ditunjuk Nabi untuk menjadi imam ketika Nabi sakit. Lalu Umar mengambil tangannya dan membai’atnya, kemudian Abu Ubaidah dan Basyir ikut membai’atnya, setelah mereka berdua membai’at, akhirnya orang-orang yang hadir dan seluruh umat Islam membai’at Abu Bakar sebagai Khalifah.

Setelah umat Islam mebai’at Abu Bakar, beliau berpidato dengan singkat namun memiliki makna yang sangat luas, sebagai sambutan atas kepercayaan umat Islam kepada dirinya:

“Wahai manusia, saat ini aku telah menjadi pemimpin kalian, tapi bukan berarti aku orang yang melebihi kalian. Jadi, jika aku melakukan kebenaran dalam masa jabatanku, maka bantulah aku. Tapi sebaliknya, jika aku melakukan kesalahan, tegakkanlah aku kembali. Kejujuran adalah suatu amanat, dan kedustaan adalah suatu khianat. Orang yang kuat di sisi kalian, adalah orang yang lemah di sisiku, sebab aku akan mengambil hak orang yang lemah darinya. Orang yang lemah di sisi kalian, adalah orang yang kuat di sisiku, sebab aku akan mengambil haknya dari orang yang kuat itu, Insyaallah. Janganlah engkau berhenti untuk berjihad, karena umat yang terus melukukan jihad tidak akan ditimpa kehinaan. Taatlah kepada ku, selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Tapi jika aku melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya, tidak usahlah kalian ikuti aku. Kerjakanlah shalat, mudah-mudahan rahmat Allah atas kalian”.[3]

   Ucapan (pidato) pertama ketika Abu Bakar menjadi khalifah ini, menunjukkan garis besar politik dan kebijakannya selama menjabat sebagai pemimpin umat, di dalamnya terdapat beberapa prinsip, di antaranya: Pertama, kebebasan dalam berpendapat, sebab beliau mengakui bahwa dirinya bukanlah manusia sempurna, yang butuh penilaian dan kritikan dari rakyatnya. Kedua, Ketaatan pada perintahnya. Ketiga, adil serta melindungi orang-orang yang lemah. Keempat, melakukan jihad, karena jihad adalah nafas setiap muslim. Kelima, melaksanakan shalat, karena shalat adalah pintu dari segala kebajikan.

3. Masa Kekhalifahannya

Abu Bakar diangkat menjadi khalifah mulai dari tahun 11 H/632 M. sampai tahun 13 H/634 M, (setelah beliau wafat). Pada masa kepemimpinan Abu Bakar ini, pemerintah Islam banyak mengalami ujian atau cobaan, baik internal maupun eksternal, yang dapat mengancam berlangsungnya kelestarian agama Islam. Di antaranya adalah: orang-orang yang dengan terang-terangan menyatakan keluar dari Islam (murtad), nabi palsu, membangkang terhadap pemerintahan Madinah dan rongrongan dari Persia dan Romawi. Namun berkat dari kepiawaian sang Khalifah semua cobaan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik.

a)   Ekspedisi Usamah bin Zaid

Pada saat umat Islam dirundung nestapa dan kemasygulan karena wafatnya Nabi Muhammad s.a.w., banyak kekacauan yang ditimbulkan oleh orang-orang munafik, diantara mereka ada yang mengaku sebagai nabi, tidak mau mengeluarkan zakat dan lain sebagainya.   Dakwah Islam banyak disibukkan oleh permasalahan internal, yaitu permasalahan-permasalahan yang timbulnya dari umat Islam sendiri, terutama tantangan yang ditimbulkan oleh suku-suku bangsa Arab yang tidak mau lagi tuduk kepada pemerintahan Madinah. Mereka menganggap perjanjian damai[4] yang telah digagas oleh Nabi s.a.w. dengan sendirinya batal setelah beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah s.a.w. keadaan umat Islam kocar-kacir, bagaikan segerombolan kambing yang diguyur hujan lebat di tengah malam yang gelap gulita. Banyak diantara mereka yang menentang pemerintahan Madinah, ada yang tidak mau mengeluarkan zakat, murtad bahkan ada yang mengaku sebagai nabi baru. Mereka menghimpun kekuatan untuk menghancurkan pemerintahan Islam dan merebut kota Madinah. Bani Hanifah dan sebagian besar orang-orang Yamamah bergabung dengan Musailamah al-Kadzdzab. Bani Asad, Ghathafan dan Thayyi bergabung dengan Thulaihah al-Asadiyah.[5]

Mendengar akan adanya serangan dari suku Arab Khalifah Abu Bakar langsung mendirikan pos-pos keamanan di sekitar kota dan menunjuk para pemimpin pos tersebut, diantaranya Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf dan Abdullah bin Mas’ud.

Pertama kali yang dilakukan oleh Khlalifah abu Bakar al-Shiddik dalam menjalankan roda kekhalifahannya, sebelum memerangi para pemberontak adalah melanjutkan pengiriman angkatan perang yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid yang usianya masih relatif muda, yaitu kira-kira 17 tahun, pemuka-pemuka Quraisy banyak yang menjadi prajurit di bawah komandonya. Dia adalah panglima perang yang dipilih langsung oleh Nabi Muhammad s.a.w., tapi pengirimannya ke negeri Qadha’ah diundur, karena Nabi s.a.w. lebih dulu dipanggil oleh Allah s.w.t..

Umar bin Khattab meminta Khalifah Abu Bakar untuk mengganti Usamah dengan sahabat lain yang lebih tua. Namun dengan tegas Khalifah Abu Bakar berkata, “Celakalah engkau, wahai anak laki-laki Khattab (ibnu al-Khattab), Rasulullah sendiri yang memilihnya, belum lama beliau dimakamkan, malah engkau menyuruh aku untuk merubah perintahnya”. Kemudian tentara yang dipimpin oleh Usamah itu diberangkatkan dan pulang denga membawa kemenangan.

b)   Memerangi Para Pembangkang dan Orang-orang Murtad

Setelah pasukan perang yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid kembali ke Madinah dengan membawa kemenangan yang gemilang. Khalifah Abu Bakar mempersiapkan tentara untuk memerangi para pembangkang dan orang-orang murtad. Pada awalnya Khalifah Abu Bakar inging terjun langsung melawan orang-orang tersebut. Namun para sahabat termasuk Ali bin Abi Thalib membujuk beliau untuk kembali ke Madinah[6], dan kedudukannya sebagai panglima perang diganti oleh sahabat-sahabat lain yang gagah berani, maka Khalifah Abu Bakar pun memenuhi permohonan mereka, dan melantik sebelas panglima, yaitu:

1)  Khalid bin Walid ditugaskan untuk memerangi Thulaihah bin Khuwailid al-Asadi yang berada di perkampungan Bani Asad, di Ghathafan. Setelah selesai membunuhnya, ia ditugaskan untuk memerangi Malik bin Nuwairah di Buthah.

2) Ikrimah bin Abu Jahal ditugaskan untuk memerangi Musailamah al-Kadzdzab.

3) Syurahbil bin Hasanah ditugaskan untuk membantu Ikrimah bin Abu Jahal.

4) Muhajir bin Abu Umayyah ditugaskan memerangi pasukan al-Ansi dan juga membantu anak-anak raja Yaman untuk menaklukkan Qais bin Maksyuh, karena ia sudah melepaskan diri dari kekuasaan Islam.

5) Khalid bin Sa’id bin Ash diperintahkan untuk berangkat ke Syam.

6) Amr bin Ash diperintahkan untuk pergi ke negeri Qudha’ah.

7) Hudzaifah bin Mihsan al-Ghalfani diperintahkan untuk memerangi penduduk Dada’.

8) Arfajah bin Hartsamah diperintahkan untuk ke Mahrah.[7]

9) Thuraifah bin Hazim diperintahkan menuju Tihamah Yaman.

10)    Al-Ala bin al-Hadrami diperintahkan ke Bahrain.

Dengan tekat dan kemauan yang tulus, yaitu menegakkan agama Allah, para panglima itu, dalam waktu yang relative singkat, dapat menyapu bersih seluruh pemberontak dan fitnah yang ditimbulkan oleh orang-orang yang mengaku sebagai nabi dan orang-orang yang benci terhadap Islam, mereka juga mendapatkan harta rampasan yang cukup banyak, kemudian mereka mengirimkan seperlima dari harta rampasan tersebut kepada pemerintahan Abu Bakar al-Shiddiq agar disalurkan kepada kaum muslimin. Peperangan ini kebanyakan terjadi pada penghujung tahun 11 H. dan awal tahun 12 H. Dan Jazirah Arab dapat bersatu kembali dalam satu agama, ikatan dan bendera. Inilah jasa dan kebesaran yang tidak dapat dilupakan oleh para sejarawan muslim tentang sosok khalifah pengganti Rasulullah s.a.w., karena berkat perjuangannya ajaran Islam terus berkibar sampai detik ini.

c)   Penaklukan Negeri Iraq

Setelah keadaan umat Islam stabil dan dapat dikendalikan oleh pemerintahan Madinah, pasca terjadinya peperangan melawan para pemberontak dan nabi-nabi palsu. Khalifah Abu Bakar melancarkan ekspansi ke negeri Iraq, ini adalah langkah awal penaklukan wilayah-wilayah timur pada masa Khulafah al-Rasyidin berikutnya. Pada periode ini Khalifah Abu Bakar mengirim dua panglima besar, yaitu Khalid bin Walid sang pedang Allah, dan Iyadh bin Ganm. Beliau memerintahkan Khalid berjalan dari arah selatan Iraq, sedangkan Iyadh bin Ganm dari arah utara Iraq dan keduanya sepakat bertemu di Herat.

 Khalifah Abu Bakar mengintruksikan untuk tidak langsung melakukan peperangan. Namun beliau memerintahkan agar melakukan dakwah (ajakan) memeluk Islam terlebih dahulu. Jika mereka tidak mengindahkan ajakan itu, maka ambillah upeti (jizyah) dari mereka. Jika mereka juga tidak mau untuk membayar upeti, maka perangilah mereka. Pemberangkatan dua panglima ini, bertepatan pada bulan Muharram tahun 12 H.

Sesampainya di Ubullah (Selat Hindia)[8], Khalid mengirim surat kepada raja Persia yang terkenal dengan sebutan raja Hurmuz, menjelaskan maksud kedatangannya. Hurmuz langsung mengumpulkan pasukan sebanyak-banyaknya dan mulai berangkat menuju Kazhimah.[9] Dan Khalid segera maju dengan tentaranya yang berjumlah 18.000 orang.

Ketika kedua pasukan saling berhadapan dan memulai peperangan, Hurmuz turun dari kudanya dan menantang Khalid untuk perang tanding. Maka Khalid langsung maju menerima tantangan Hurmuz dan kedua pedang saling menyerang. Akhirnya Khalid dapat mencekik leher Hurmuz, sehingga ia semakin marah, namun kemarahannya tidak dapat melumpuhkan Khalid bin Walid. Melihat kemarahan itu, pasukan Khalid segera menyerang pasukan Hurmuz, dan mereka dapat membuat pasukan Hurmuz koca-kacir sehingga banyak mendapatkan harta jarahan.

Kemudian pasukan Khalid menuju al-Madzar,[10] al-Walajah[11] dan Ullaisy.[12] Dalam tiga tempat ini, umat Islam memperoleh kemenangan yang gemilang. Setelah Khalid memenangkan peperangan di Ullaisy, beliau singgah di Herat. Para pembesar kota tersebut menyambut kedatangan Khalid bin Walid. Namun mereka tetap tidak mau melepaskan keyakinannya, dan mereka sepakat untuk membayar upeti kepada pemerintahan Islam senilai 90.000 dirham. Riwayat lain mengatakan 200.000 dirham. Itulah upeti pertama yang dipungut dari tanah Iraq dan dikirim ke Madinah beserta barang jarahan dari negeri yang lain.

Setelah mendapatkan upeti dari Herat, pasukan Khalid menuju al-Anbar.[13] Kota itu dipimpin seseorang yang sangat dihormati dan disegani oleh bangsa Persia yang bernama Syirzadz. Khalid segera mengepung wilayah tersebut yang dikelilingi dengan parit, sementara penduduk negeri itu bersatu untuk mencegah pasukan Khalid agar tidak dapat menyebrangi parit yang mereka buat.

Katika kedua pasukan saling berhadapan, di depannya terdapat parit. Khalid memerintahkan pasukannya agar menghujani mereka dengan anak panah, hingga seratus orang dari mereka buta. Karena itulah peperangan ini disebut dengan peperangan Dzatul ‘Uyun. Akhirnya pimpinan mereka Syirzadz mengirim surat kepada Khalid untuk berdamai, namun Khalid membuat beberapa persyaratan. Awalnya Syirzadz tidak mau menerima persyaratan tersebut. Tapi setelah dia melihat pasukan Khalid berhasil menyebrangi parit, dengan cara menyembelih unta-unta yang kurus, kemudian unta tersebut dimasukkan ke dalam parit, sehingga dengan mudah parit itu dapat dilewati. Akhirnya dia mau menerima semua persyaratan yang telah diajukan oleh Khalid, dan dia memohon agar diizinkan untuk kembali ke tempatnya, dan Khalid pun mengabulkan permohonannya.

Ketika benteng al-Anbar menjadi wilayah kekuasaan Khalid, ia menunujuk al-Zabarqan bin Badar sebagai wakil penggantinya di kota itu. Kemudian  ia bergerak menuju Ain Tamar.[14] Pada waktu itu Ain Tamar dipimpin oleh Mihran bin Bahram Jubian, disana ia telah menyiapkan pasukan besar guna menjemput kedatangan Khalid. Pasukan ini dipempin oleh panglima yang bernama Aqqah bin Abi Aqqah.

Ketika Khalid berhadapan dengan Aqqah, ia berpesan kepada pasukannya yang berada disayap kanan dan kiri, “Pertahankan posisi kalian, aku akan menerobos ke dalam barisan musuh”. Tiba-tiba Khalid maju menerobos barisan musuh menuju Aqqah yang sedang merapikan barisan tentaranya dan dia menyerangnya hingga berhasil menawannya. Kemudian dia mengintruksikan agar memenggal kepala Aqqah dan semua pasukannya dirantai.  Dengan tertawannya Aqqah, maka peperangan dimenangkan oleh pasukan Khalid tanpa terjadi peperangan. Akhirnya benteng Ain Tamar beserta barang-barangnya dapat dikuasainya.

Lalu Khalid bin Walid mengutus Walid bin Uqbah untuk menghadap Khalifah Abu Bakar. Kemudian beliau memerintahkan Khalid agar pergi ke Dumatul Jandal[15] untuk membantu seorang panglima yang diberangkatkan bersama Khalid dari Madinah, yaitu Iyadh bin Ganm, dan keduanya sepakat bertemu di Herat. Namun ketika pasukan Iyadh sampai di Dumatul Jandal, mereka melakukan pengepungan terhadap kota tersebut, tapi mereka tidak dapat menguasainya.

Sesampainya di Dumatul Jandal Khalid membagi wilayah yang akan diserbunya, setengah Dumatul Jandal akan ditangani sendiri dan setengahnya lagi akan ditangani oleh Iyadh. Masing-masing pasukan bergerak mendobrak barisan musuh. Sehingga Khalid berhasil menawan al-Jaudi bin Rabi’ah, pemimpin pasukan Dumatul Jandal dan memenggal kepalanya. Ketika pasukan al-Jaudi mengetahui pimpinannya sudah mati terpenggal, mereka lari ke dalam benteng, namun karena benteng tidak dapat menampung mereka semua, sehingga diantara mereka ada yang di luar benteng.

Khalid menyerbu benteng dan membunuh semua pasuka musuh yang ada di luar benteng. Lalu dia berusaha untuk bisa menembus benteng, dan berhasil merobohkan pintunya, sehingga dapat membunuh semua orang-orang di dalamnya, kecuali wanita dan anak-anak.[16] Di Dumatul Jandal-lah kedua panglima besar bertemu, yaitu Khalid bin Walid dan Iyadh bin Ganm dengan membawa kemenangan yang membanggakan.

d)   Penaklukan Negeri Syam.

Pada awal tahun 13 H. Khalifah Abu Bakar berusaha untuk mengumpulkan semua pasukan dari berbagai daerah Islam, dengan mengirimkan surat ke Makah, Thaif, Yaman dan negeri-negeri Arab, sampai ke Najd dan Hijaz. Isi surat itu adalah perintah untuk mempersiapkan bala tentara besar, untuk melakukan peperangan yang besar pula, yaitu menaklukkan negeri Syam pusat kerajaan Rum pada saat itu. Mendengar seruan itu umat muslim sangat antusias dan mempersiapkan diri guna mengikuti peperangan.

Setelah semuanya siap, Khalifah Abu Bakar mulai melantik panglima serta menyerahkan panji-panji peperangan kepada masing-masing panglima: Yazid bin Abi Sufyan dibantu oleh Suhail bin Amr menaklukkan kota Damaskus. Abu Ubaidah bin Jarrah menaklukkan kota Homsh. Amr bin Ash dan al-Qamah bin Mujzir menaklukkan Palestina. Syarahbil bin Hasanah menaklukkan kota Ardan.[17]

Peperangan yang paling hebat dan dahsyat pada saat penaklukkan negeri Syam adalah peperangan Yarmuk. Pada saat itu semua tentara Islam bersatu, sehingga orang-orang Rum merasa ketir melihatnya. Pada awalnya peperangan Yarmuk tidak akan berakhir dengan menyenangkan, karena sudah berhari-hari peperangan itu berlangsung, namun belum juga berakhir dengan kemenangan umat Islam. Pada saat itu panglima besar untuk mengomando semua pasuka tidak ada, sehingga setiap panglima mengendalikan pasukannya masing-masing. Sedangkan pasukan musuh telah bersiap-siap untuk keluar dari benteng mereka guna melakukan serangan balik dengan skala yang sangat besar.

Setelah salah satu sahabat minta bantuan serta melaporkan kepada Khalifah Abu Bakar, bahwa akan ada serangan besar-besaran dari pasukan Rum. Maka Khalifah Abu Bakar mengirim surat kepada Khalid memerintah dia agar pergi ke Syam, pada saat itu dia sedang berada di Iraq. Kemudian Khalid langsung menuju Syam dengan membawa 6.000 pasukan. Sesampainya di sana Khalid mengintruksikan agar semua pasukan menjadi satu dan tidak boleh bercerai berai, dan dia yang menjadi panglima tertingginya. Kedatangan Khalid membawa angin kemenangan bagi umat Islam.

Ketika umat Islam berada dalam medan pertempuran yang sedang bergejolak, para mujahid sedang bergumul dengan musuh-musuhnya, tiba-tiba datang sepucuk surat dari kota Madinah, mengabarkan bahwa pengganti Rasulullah s.a.w., yaitu Abu Bakar al-Shiddiq sudah wafat. Dan beliau mengangkat Umar bin Khattab sebagai penggantinya untuk menjadi khalifah. Umar mencopot pangkat Khalid sebagai Panglima tertinggi dan mengangkat Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai penggantinya.

Kemudian surat itu sengaja oleh Khalid dirahasikan, karena hawatir umat Islam menjadi kacau mendengar berita duka itu.[18] Setelah peperangan selasai, serta umat Islam mendapatkan kemenangan dan lebih dari 100.000 tentara Rum tewas. Barulah ia mendatangi Abu Ubaidah mengabarkan tentang kematian Abu Bakar al-Shiddiq serta menyerahkan tongkat kepemimpinannya. Sedangkan Khalid tetap menjadi seorang prajurit biasa dalam peperangan selanjutnya, meskipun ia tidak menjadi pemimpin, namun tidak sedikitpun dapat meredupkan kobaran jihad dalam dirinya.[19]


[1] Sebuah tempat milik Bani Sa’idah di Madinah yang biasa digunakan untuk bermusyawarah.

[2] Hamka. Op. cit. hlm. 15-16

[3] Abu al-Walid al-Najjara. Al-Khulafa’u al-Rasyidin. Bairut: Dar al-Kutub al-Ilmiah,1990, hlm. 35. Lihat pula Hamka. Op. cit. hlm. 19

[4] Dikenal dengan sebutan “Piagam Madinah”.

[5] Musailamah al-Kadzdzab dan Thulaihah al-Asadiyah mengaku sebagai nabi baru.

[6] Pada saat itu Khalifah Abu Bakar sudah berada di Dzul-Qashshash.

[7] Mahrah adalah salah satu suku di Yaman.

[8] Ubullah terkenal dengan nama selat penduduk Sind atau Hindia, selat ini merupakan pertahanan bangsa Persia yang paling kuat. Lihat Ibnu Katsir. Al-Bidayah wan Nihayah. Pent. Abu Ihsan al-Atsari. Jakarta: Darul Haq, 2004 M, hlm. 120

[9] Sebuah negeri yang berada di tepi laut, diantara Bashrah dan Bahrain.

[10] Al-Madzar terletak di tengah kota Bashrah, tepatnya di Qashabah Maisan.

[11] Al-Walajah: Bumi Kaskir, di sanalah Khalid mengalahkan tentara Persia.

[12] Ullaisy adalah nama perkampungan di kota al-Anbar dan awal dari kota Iraq.

[13] Sebuah kota di tepi sungai Eufrat terletak di sebelah barat kota Baghdad, dari kota tersebut banyak diekspor biji-biji gandum, karena itulah kota itu disebut al-Anbar artinya adalah biji-bijian.

[14] Ain Tamar adalah sebuah kota yang berdekatan dengan al-Anbar, di sana banyak sekali pohon kurma.

[15] Dumatul Jandal adalah nama seseorang dari keturunan Ismail, dia membangun benteng di tempat   ini dan atapnya dari jandal. Hingga sekarang namanya masih dikenal dengan Dumatul Jandal, tempat ini terletak di daerah utara kerajaan Saudi Arabia di daerah al-Jauf.

[16] Ibnu Katsir. Op. Cit. hlm. 133-134

[17] Hamka. Op. Cit. hlm. 24

[18] Lihat Ibnu Katsir. Op. Cit. hlm. 161

[19] Hamka. Op. Cit. hlm. 25