Islam adalah agama yang komprehenship dan paripurna. Islam  mengatur segala aspek kehidupan manusia, baik dalam masalah ibadah, sosial, dan pidana. Oleh karenanya, Islam memiliki sumber atau referensi dalam mengatur semua aspek yang telah disebutkan di atas. Sumber ajaran Islam ada tiga, yaitu: al-Qur’an, al-Sunnah dan Ijma’.

Dalam hal ini Allah s.w.t. berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul -Nya, dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (Q.S. al-Nisa’, 4: 59)

Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbah mengungkapkan beberapa pendapat ulama’ mengenai ulil amri. Ada yang berpendapat bahwa ulil amri adalah para penguasa atau pemerintah. Ada yang berpendapat, ulil amri adalah ulama’, dan ada pendapat lain menyatakan bahwa ulil amri adalah wakil masyarakat dalam berbagai kelompok dan profesinya. (M. Quraish Shihab, 2002: 460-461)

  • Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. melalui malaikat Jibril secara gradual (bertahap), sebagai mukjizat sekaligus sebagai pedoman hidup bagi umatnya, dan bernilai ibadah bagi orang yang membacanya dengan benar. Al-Qur’an diturunkan mulai dari tanggal 17 Ramadhan tahun ke-14 dari kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. sampai pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun ke-10 Hijriyah atau tahun ke-63 dari kelahiran beliau. Rentang waktu antara ayat pertama yang diturunkan dengan ayat yang terakhir adalah 22 tahun 2 bulan 22 hari. Diantara hikmah turunnya al-Qur’an secara bertahap adalah agar hati Nabi Muhammad s.a.w. menjadi kuat dan tetap, serta memberikan kemudahan bagi umatnya untuk mengahafal dan memahaminya.

Sebagai pedoman hidup manusia, al-Qur’an mulai darri pertama diturunkan sampai akhir zaman akan selalu terjaga keotentikan ataun keasliannya. Allah s.w.t. tidak akan membiarkan kitab-Nya yang satu ini terkontaminasi dengan yang lainnya, sebab ulah tangan jahil manusia. Salah satu program Allah untuk menjaga kemurnian al-Qur’an adalah banyaknya para hafidz al-Qur’an, semata-mata karena kehendak Allah mereka dapat menghafal al-Qur’an dengan baik. Dan setiap kali ada usaha untuk memalsukan al-Qur’an, baik secara keseluruhan ataupun sebagian, pasti dengan cepat dan mudah dapat diketahui dan digagalkan. Allah s.w.t. telah menjamin keaslian al-Qur’an dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (Q.S. al-Hijr, 15: 9)

  • Al-Sunnah

Al-Sunnah secara bahasa adalah cara atau kebiasaan. Karena itu para orientalis menerjemahkan al-Sunnah dengan tradition. Secara istilah, al-Sunnah adalah ucapan, pekerjaan dan ketetapan Nabi yang berkaitan dengan hukum. Ada tiga istilah lain yang sering digunakan untuk menyebut al-Sunnah yaitu al-Hadits, al-Khabar dan al-Atsar. Secara umum ulama’ Hadits berpendapat bahwa empat kata ini merupakan sinonim (muradhif). Namun ada sebagian ulama’ yang membedakannya, tapi perbedaan itu tidak menyangkut hal-hal yang prinsipil. Ada yang berpendapat bahwa al-Hadits itu hanya terbatas pada apa yang datang dari Nabi saja, al-Sunnah merupakan amalan yang dilakukan oleh para sahabat, al-Khabar terbatas pada sesuatu yang datangnya selain dari Nabi, dan al-Atsar lebih umum, datangnya tidak terbatas  dari Nabi dan selainnya. Oleh karena itu, orang yang berkiprah dalam ilmu hadits disebut Muhaddits dan orang yang menekuni al-Khabar disebut Akhbari. Ada jug yang pendapat yang membedakannya dari segi umum dan khusus, yakni setiap al-Hadits itu bisa disebut al-Khabar, tapi sebaliknya tidak setiap al-Khabar disebut al-Hadits. (al-Suyuthi, 1993: 14)

Para ulama’ sepakat bahwa al-Sunnah menempati kedudukan kedua setelah al-Qur’an dalam hirarki sumber hukum Islam. Kedudukan setelahnya adalah Ijma’ kemudian Qiyas. Menurut imam Syafi’I al-Sunnah tidak dapat dipisahkan dengan al-Qur’an. Karena al-Sunnah merupakan bayan (penjelas) dari al-Qur’an. (al-Syafi’I,t.t.,hlm.21-34). Sebagai penjelas, al-Sunnah tentunya tidak dapat dipisahkan dari yang dijelaskan, yaitu al-Qur’an. Oleh sebab itu, al-Qur’an dan al-Sunnah adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dari sinilah, kemudian madzhab imam Syafi’I menetapkan salah satu kaidah: al-ashlu al-Qur’an wa al-Sunnah. (Muhammad Hasan al_farisi, 1995:468). Dalam kaidah tersebut menggunakan wau yang artinya dan tidak menggunakan tsumma atau fa’ yang artinya kemudian.

  • Ijtihad

Secara bahasa ijtihad adalah sunguh-sungguh atau serius. Menurut istilah adalah penggunaan rasio atau akal semaksimal mungkin guna menemukan ketetapan hokum tertentu yang tidak ditetapkan secara tegas dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Ijtihad berada pada posisi ketiga dalam sumber hokum Islam. Dalam ijtihad ini timbullah sumber hokum lainnya yaitu ijma’, qiyas, urf dan istihsan. Ijtihad dilakukan oleh para imam, pemimpin, hakim dan panglima perang untuk menumukan solusi dari permasalahan yang berkembang di kalangan mereka berdasarkan bidang mereka masing-masing.

Ijtihad memiliki peranan penting dalam pembinaan hukum Islam; di antaranya (1) Agar hukum Islam dapat ditetapkan secara fleksibel sehingga tidak kaku. (2) Agar dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman. (3) Dapat memudahkan penerapan ajaran Islam menurut situasi dan kondisi yang ada. (4) Dapat mengembangkan intelektualitas umat Islam sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. (5) Dapat meningkatkan dinamika masyarakat Islam yang heterogen, namun senantiasa hidup toleran dengan ukhuwah Islamiyah. (Zakky Mubarak, 2010:106-107).