Sunah ab’adh adalah perkara yang disunahkan dalam shalat, dan apabila meninggalkannya (baik disengaja maupun tidak), sunah melakukan sujud sahwi, untuk mengganti kekurangan tersebut. Dinamakan ab’adh (sebagian), karena apabila meninggalkannya, sangat dianjurkan mengganti dengan sujud sahwi, jadi hampir sama dengan fardhu shalat, apabila senganja ditinggalkan dapat membatalkan shalat, walaupun ketika meninggalkan fardhu shalat tidak wajib diganti dengan sujud sahwi.

Sunah ab’adh ada delapan, yaitu:

  1. Tasyahhud Awal.
  2. Duduk pada saat tasyahhud awal.
  3. Kunut yang tetap, seperti kunut shalat Subuh dan kunut shalat witir pada setengan terakhir bulan Ramadhan. Bukan seperti kunut naazilah, karena kunut naazilah tersebut disunahkan apabila ada musibah saja, selain itu tidak disunahkan.
  4. Berdiri pada saat kunut.
  5. Membaca shalawat setelah tasyahhud awal.
  6. Membaca shalawat setelah kunut.
  7. Membaca shalawat kepada keluarga Nabi setelah tasyahhud akhir.
  8. Membaca shalawat kepada keluarga Nabi setelah kunut. [1]

Sunah haiat adalah perkara yang disunahkan dalam shalat, dan apabila meninggalkannya tidak disunahkan melakukan sujud sahwi.

Sunah haiat ada lima belas, yaitu:

  1. Mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram, ingin melakukan rukuk, dan bangun dari rukuk.
  2. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, kemudian diletakkan di atas pusar.
  3. Membaca do’a Iftitah
  4. Membaca Ta’awudz setelah membaca do’a iftitah.
  5. Mengeraskan suara pada tempatnya, seperti dalam shalat shubuh, dua rakaat pertama dalam shalat maghrib dan isya’, jum’at dan shalat hari raya.
  6. Memelankan suara pada tempatnya, selain conto di atas.
  7. Membaca amin.
  8. Membaca surat setelah fatihah.
  9. Membaca Takbir ketika ingin melakukan rukuk dan berdiri dari rukuk.
  10. Membaca Sami’allahu Liman Hamidah dan membaca Rabbana lakal hamdu ketika sudah tegak berdiri.
  11. Membaca tasbih pada saat rukuk, minimal membaca: Subahana rabbiyal ‘adzimi 3x, dan membaca tasbih pada saat sujud, minimal membaca: Subahana rabbiyal a’la 3x.
  12. Meletakkan kedua tangan di atas kedua paha, pada saat duduk tasyahud awal dan akhir, serta membentangkan tangan kiri dan mengenggam tangan kanan, kecuali jari telunjuk dibuat isyarah ketika membaca: Illallah
  13. Duduk Iftirasy[2] dalam semua duduk yang ada dalam shalat, kecuali duduk yang terakhir.
  14. Duduk tawarruk dalam duduk terakhir.[3]
  15. Salam kedua.

[1] Duduk ketika membaca shalawat kepada Nabi s.a.w. dalam tasyahhud awal, duduk  ketika membaca shalawat kepada keluarga Nabi dalam tasyahhud akhir dan berdiri ketika membaca shalawat kepada Nabi s.a.w. dan keluarganya dalam kunut, juga termasuk sunah ab’adh, maka sunah ab’adh ada 12.

[2]  Duduk iftirasy adalah: mata kaki kiri yang luar diletakkan di atas bumi, kemudian didudukin, serat telapak kaki kanan didirikan, dan  jari-jarinya diletakkan kebumi mengahadap kibalat.

[3]  Duduk tawarruk sama dengan duduk iftirasy, tapi kaki yang kiri dikeluarkan kea rah kanan, dan pantat langung duduk di atas bumi.