a.      Pengertian dan Hukum Sujud Sahwi

Sahwi secara etimologis adalah melupakan atau lupa akan sesuatu. Sedangkan secara terminologis adalah  melupakan sesuatu yang khusus dalam shalat, lazimnya seperti sunnah ab’adl (Sunah ab’adh lebih jelasnya baca artikel sebelumnya; Mengetahui perbedaan antara sunah ab’adh dengan sunah haiat), dan yang tidak lazim, seperti memperpanjang rukun yang pendek dan mengulang-ulang rukun dalam keadaan lupa. Maksudnya adalah melakukan sesuatu dalam keadaan lupa yang dapat merusak ketertiban gerakan dalam shalat.

Dapat diambil kesimpulan dari pengertian diatas, sujud sahwi adalah sujud yang dilakukan karena telah melupakan salah satu pekerjaan dalam shalat sehingga dapat merusak pada ketertiban gerakan dalam shalat. Dan hukum sujud sahwi adalah sunah.

 b.      Sebab-sebab Sujud Sahwi

Ada lima hal yang menjadi sebab disunahkan melakukan sujud sahwi, yaitu:

  1. Meninggalkan salah satu sunah ab’adh atau setengahnya  baik disengaja atau karena lupa, seperti meninggalkan satu kalimat dari bacaan kunut yang telah menjadi ketetapan dari Nabi Muhammad s.a.w. atau mengganti salah satu huruf-hurufnya. Kecuali tidak membaca Fa’nya lafadz “Fainnaka taqdhi” atau wawunya lafadz “Wainnahu laa yadzillu”, maka tidak disunahkan melakukan sujud sahwi, karena masih ada kontrofersi dalam masalah ketetapan keduanya (Fa’ dan Wawu).
  2. Ragu dalam meninggalkan sunah ab’adh, baik keraguannya mu’ayyan (tertentu pada satu objek), seperti ragu dalam meninggalkan kunut, atau mubham (antonim dari muayyan), seperti ragu dalam meninggalkan tasyahhud awal atau meninggalkan kunut, maka sunah melakukan sujud sahwi, sesuai dengan qa’idah al-ashlu al-‘adam.
  3. Melakukan perkara (yang dapat membatalkan shalat apabila disengaja) yang dilarang dalam shalat tanpa disengaja, seperti menambah rukuk atau sujud, memanjangkan rukun yang pendek, seperti I’tidal dan duduk di antara dua sujud, makan, berbicara, menambah rakaat dan salam bukan pada tempatnya. semua ini disunahkan untuk melakukan sujud sahwi apabila dilakukan dengan tanpa sengaja, dan apabila dilakukan dengan sengaja, maka shalatnya batal.
  4. Memindahkan qauli (bacaan dalam shalat) baik rukun yang tidak dapat membatalkan shalat atau selain rukun. Yang dimaksud dengan “rukun yang tidak dapat membatalkan shalat” adalah: Melakukan rukun qauli terlebih dahulu pada tempatnya, kemudian mengulangi kembali pada tempat yang lain, seperti membaca fatihah pada tempatnya, kemudian mengulangi bacaan fatihah tersebut pada waktu rukuk. Apabila memindahkan rukun dengan tanpa melakukan pada tempatnya terlebih dahulu, maka shalatnya batal. Adapun contoh dari memindahkan yang bukan termasuk rukun adalah, seperti bacaan surat dilakukan pada waktu rukuk, maka disunahkan untuk melakukan sujud sahwi. Apabila membaca surat sebelum membaca fatihah, maka tidak disunahkan untuk melakukan sujud sahwi, karena berdiri adalah tempat membaca surat secara global.
  5. Melakukan rukun fi’li (gerakan dalam shalat), serta adanya kemungkinan menambah rukun, seperti orang yang shalat ragu dalam jumlah rakaatnya –apakah rakaat yang sedang dilakukan adalah rakaat ke tiga atau ke empat­–, maka ia meneruskan shalatnya dengan memilih yang lebih sedikit dari yang diragukannya (tiga rakaat),walaupun ada kemungkinan lebihnya rakaat dalam shalat, karena bisa jadi sebenarnya ia sedang melakukan rakaat yang ke empat.  Ini yang dimaksud dengan adanya kemungkinan menambah rukun.

c. Waktu dan Cara Melakukan Sujud Sahwi

  • Waktu Sujud Sahwi

Waktu melakukan sujud sahwi adalah setelah tasyahhud dan sebelum salam. Apabila melakukan sujud sahwi sebelum membaca shalawat dalam tasyahhud, kemudian membacanya setelah melakukan sujud sahwi, maka mencukupi dan mendapatkan kesunahan serta tidak boleh melakukan sujud sahwi lagi.

  • Cara Melakukan Sujud Sahwi

Cara melakukan sujud sahwi sama seperti sujud dalam shalat, yaitu meletakkan kening, thuma’ninah dan seterusnya. Tetapi apabila sujud sahwi dilakukan karena lupa meninggalkan salah satu aktifitas dalam shalat, maka sepantasnya membaca: سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو, dan apabila meninggalkannya karena sengaja, maka sepantasnya membaca istighfar. Bagi selain makmum wajib niat di dalam hati tanpa melafadzkan dengan lisan, dan apabila melafadzkannya atau sujud dengan tanpa niat, maka shalatnya batal.

Referensi:

Muhammad Nawawi bin Umar bin Ali al-Jawi. 2005 M / 1426 H. Nihayah al-Zain. al-Haramain

___________________. 2008 M/1429 H. Kasyifah al-Saja. Dar al-Kutub al-Islamiyah

Ibarahim al-Baijuri. 2003 M/1424 H. al-Baijuri. Bairut: Dar al-Kutub