Ada tiga perkara yang disunnahkan pada hari ke tujuh dari hari lahirnya sang buah hati yaitu, akikah, mencukur rambut dan memberi nama. Nabi Muhammad s.a.w. bersabda:

الْغُلَامُ مُرْتَهَنٌ بعَقِيْقَتِهِ حَتَّى تُذْبَحَ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُسَمَّى

Seorang anak digadaikan dengan akikahnya, sehingga disembelihkan darinya pada hari ke tujuh kelahirannya, kemudian rambutnya dicukur dan diberi nama”. (H.R. Imam Ahmad & al-Tirmidzi)

Imam al-Nawawi menjelaskan dalam kitab Adzkar: Pemberian nama bagi anak sebelum atau setelah hari ke tujuh dari kelahiran anak hukumnya boleh, karena hukum pemberian nama pada hari ke tujuh hanya sunnah.

Dan sunnah pula memberi nama bagi anak dengan nama yang bagus, Nabi Muhammad s.a.w. bersabda:

إِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ أَبَائِكُمْ فَحَسِّنُوْا أَسْمَائَكُمْ

“Sesungguhnya kelak di hari kiamat kalian akan dipanggil dengan nama kalian dan nama bapak kalian, maka baguskanlah nama kalian”

a.   Nama-nama yang paling utama

  • Abdullah, Abdurrahman, dan semua nama ‘abdun yang diidlafahkan (disandarkan) pada asmaul husna (asma-asma Allah), seperti Abdurrahim, Abdul Wahid, Abdul Quddus dan lain sebagainya.
  • Muhammad dan Ahmad. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a.: Pada hari Kiamat malaikat yang bertugas untuk memanggil nama manusia berseru “Bangunlah orang-orang yang mempunyai nama Muhammad, kemudian masuklah ke dalam surga, karena memuliakan nabi Muhammad s.a.w.”. Dapat diambil kesimpulan dari riwayat Ibnu Abbas r.a. tersebut, bahwa nama Muhammad lebih utama dari pada nama Ahmad.
  • Nama-nama malaikat dan para nabi, ada sebuah riwayat yang mengatakan: Ketika hari Kiamat Allah s.w.t. mengeluarkan orang-orang ahli tauhid dari neraka, orang yang pertama kali dikeluarkan adalah orang yang namanya sama dengan nama-nama para nabi.

b.   Nama-nama yang dimakruhkan

  • Nama yang mengandung arti merendahkan, seperti Sittunnas (aibnya manusia), sittul arab (aibnya bangsa arab) dan lain sebagainya.
  • Nama yang mengandung arti memuliakan, seperti sayyidunnas (tuannya para manusia), sayyidul ulama’ (tuannya para ulama’) dan lain sebagainya.
  • Nama-nama yang jelek seperti, himar (keledai), kirdun (monyet), dan lain sebagainya.

c.    Nama-nama yang diharamkan

  • Nama abdun yang diidlafahkan (disandarkan) pada selain Allah s.w.t., seperti nama Abdul Ka’bah, Abdul Hasan, Abdul Ali dan lain sebagainya, karena nama-nama tersebut dapat menimbulkan dugaan syirik.
  • Nama abdun yang diidlafahkan (disandarkan) pada sifat-sifat Allah s.w.t., tetapi tidak terdapat dalam Asmaul Husna seperti, Abdul Athi (hambanya dzat yang memberi) dan Abdul Ali (hambanya dzat yang maha tinggi), karena nama-nama Allah s.w.t. adalah tauqifiah (langsung dari Allah).
  • Nama-nama yang dapat menimbulkan dugaan atau pemahaman yang diharamkan seperti, Aqdlal Qudlah (qadlinya para qadli), Ma_likul Amlak (rajanya para raja), Ha_kimul Hukkam (hakimnya para hakim), Rafi_qullah (partnernya Allah) dan Ja_rullah (tetangganya Allah). Maha qadli, maha raja dan maha hakim hanyalah Allah s.w.t., tidak ada satupun yang dapat menyamai apalagi melebihi tingkatan-Nya, dan Dia tidak pernah butuh pada yang lain-Nya.

Memberi julukan pada seseorang dengan julukan yang tidak disukai hukumnya haram, walaupun julukan tersebut sesuai dengan keadaannya, seperti buta, pincang, tuli dan lain sebagainya, kecuali julukannya lebih dikenal dari pada nama aslinya, dan ketika menyebutkan nama aslinya orang lain tidak mengetahuinya, maka boleh memanggil orang tersebut dengan julukannya.