Oleh: Dr. KH. Zakky Mubarak. MA*

Nabi besar Muhammad s.a.w. adalah seorang Rasul yang diutus oleh Allah s.w.t. sebagai rahmat bagi alam semesta. Beliau mengabdikan hidupnya sebagai seorang dai. Yaitu orang yang menyeru dan mengajak umat manusia agar menuju kebenaran dan meninggalkan kebatilan. Ajakan atau seruan itu disebut “dakwah” , suatu istilah yang dikenal luas di kalangan masyarakat. Disebutkan dalam al-Qur’an, “Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi atas umat, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan sebagai seorang dai yang menyeru manusia menuju Agama Allah dengan izin-Nya serta menjadi pelita yang menerangi.” (QS. al-Ahzab, 33: 45-46)
Pengertian dakwah menurut etimologi adalah ajakan, seruan, panggilan, dan undangan. Sedang menurut terminologi secara umum, dakwah adalah suatu pengetahuan yang mengajarkan cara-cara dan metode untuk menarik perhatian umat manusia, guna mengikuti suatu ideologi atau ajaran tertentu. Istilah lainnya menyebutkan bahwa ilmu dakwah adalah pengetahuan yang mengajarkan cara-cara mengetahui alam pikiran manusia, untuk diarahkan kepada suatu ideologi tertentu. Pengetian dakwah dalam ajaran Islam adalah mengajak umat manusia dengan hikmah dan kebijaksanaan agar mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
Syeikh Ali Mahfudh mengemukakan pengertian dakwah Islam sebagai berikut, “Mengarahkan manusia agar melakukan kebaikan dan mengikuti petunjuk, menyuruh mereka agar berbuat kebajikan dan melarang mereka dari perbuatan mungkar, agar memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.”
Al-Ustadz Bahiyul Huli dalam kitabnya Tadzkirah al-Du’at berpendapat, “Dakwah adalah memindahkan umat manusia dari satu situasi kepada situasi yang lain.” Banyak lagi istilah-istilah lain yang hampir sama artinya dengan dakwah, seperti tabligh atau penyampaian, amar ma’ruf nahi mukar yaitu memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, mau’izhah atau nasehat, dzikra atau peringatan, khutbah, nashihat, washiat, dan sebagainya.
Dari uraian-uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa dakwah adalah suatu usaha untuk merubah situasi yang tidak diridhai oleh Allah kepada situasi yang diridhai oleh-Nya. Dengan demikian, dai senantiasa berusaha memindahkan situasi yang negatif kepada yang positif, merubah keadaan yang buruk kepada yang baik, mencegah yang mungkar dan menegakkan yang ma’ruf.
Berdakwah, melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, merupakan kewajiban bagi umat Islam, di mana saja mereka berada menurut kemampuan masing-masing. Sebagaimana firman Allah, “Hendaklah ada diantaramu umat yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran, 3: 104)
Rasulullah saw bersabda, “Siapa diantaramu melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu juga maka dengan hatinya, dan itulah iman yang paling lemah.” (HR. Muslim). Dalam hadits lain disebutkan, “Sampaikanlah dariku meskipun hanya satu ayat.” (HR. al-Bukhari)
Rasulullah saw melaksanakan dakwah dengan penuh kebijaksanaan dan metode-metode yang tepat, sehingga dalam perjuangannya yang teramat singkat, hanya dalam kurun waktu 23 tahun, beliau dapat merubah suatu masyarakat jahiliyah yang diliputi kezaliman dan kebodohan menjadi tatanan masyarakat yang beradab, di mana sesama manusia saling berbuat baik dan beribadah kepada Allah swt. Dalam waktu yang teramat singkat itu beliau telah berhasil merubah suatu bangsa yang terbelakang dan tidak dikenal oleh sejarah, menjadi masyarakat yang maju dan menjadi penentu sejarah dunia.
Di antara kunci-kunci sukses yang mengantarkan Rasulullah Muhammad saw kepada keberhasilan dakwah adalah karena beliau senantiasa bersikap lemah lembut, berakhlak mulia, bermusyawarah dalam segala urusan dan perjuangan yang ulet dipenuhi kesabaran dan ketabahan. Sebelum Rasul berdakwah mengajak orang lain, beliau selalu memulai dengan dirinya sendiri dan keluarganya. Ia sangat memperhatikan keadaan obyek dakwah sehingga mereka dapat dibimbing dengan baik. Dijelaskan dalam al-Qur’an, “Maka dengan rahmat Allah engkau bersikap lemah lembut terhadap meeka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka melarikan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkan mereka, mohonkan ampun bagi mereka dan bermusyawarah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah keada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orag-orang yang bertawakkal.” (QS. Ali Imran, 3:159)
Berdasarkan kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah dan agar umat Islam dapat melanjutkan dakwah islam dengan sebaik-baiknya, maka hendaklah menjadikan Rasul sebagai contoh dan teladan dalam segala kehidupan. Untuk itu, seorang dai hendaknya memperhatikan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
• Mengetahui tentang al-Qur’an dan al-Sunnah sebagai dasar-dasar pokok dari agama Islam.
• Memiliki pengetahuan Islam yang bersumber kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasul.
• Memiliki ilmu pengetahuan yang menjadi pelengkap dakwah, seperti teknik berdakwah dan strateginya, psychologi, sejarah kebudayaan Islam, sejarah perkembangan dakwah, perbandingan agama, dan lain sebagainya.
• Menguasai bahasa umat yang akan diajak kepada jalan yang diridahi oleh Allah. Demikian juga ilmu retorika, kepandaian berbicara, mengarang, menulis uraian yang ilmiah dan sebagainya.
• Seorang dai harus bersikap penyantun, berpandangan luas dan berlapang dada, sebab apabila sempit, keras dan kasar, orang-orang di sekelilingnya akan tidak simpati dan meninggalkan ajakannya, sebagaimana dijelaskan al-Qur’an dalam Surat Ali Imran ayat 159 di atas.
• Memilki keberanian dengan perhitungan yang matang untuk menyatakan, membela, dan mempertahankan kebenaran. Allah berfrman, “Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan bersedih hati, kamu adalah orang-orang yang mulia jika kamu beriman.” (QS. Ali Imran, 3:139)
• Seorang dai hendaklah senantiasa memberikan contoh-contoh amal perbuatan dari apa yang didakwahkan, “Besar dosa di sisi Allah, kamu katakan apa yang kamu tidak kerjakan.” (QS. al-Shaff, 61:3)
• Memiliki mental yang kuat, tabah, berkemauan keras, bersikap optimis, walau menghadapi berbagai macam problem, rintangan dan tantangan.
• Bersikap ikhlas semata-mata mencari keridhaan Allah dalam segala langkah dan perbuatan.
• Mencintai dan menyenangi tugas sebagai dai atau muballigh dan tidak mudah meninggalkan tugas-tugas dakwah tersebut karena pengaruh-pengaruh lain yang bersifat materi, kedudukan atau kemewaan duniawi lainnya.
• Senantiasa mengikuti jalan yang diridhai oleh Allah swt dalam segala kehidupan. Allah berfirman, “Sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia. Janganlah kamu mengikuti jalan yang lain, nanti akan terlepas dari jalan-Nya. Itulah yang diwasiatkan Tuhan kepadamu, semoga kamu bertakwa.” (QS. al-An’am, 6: 153)

Apabila setiap pribadi dai dan kaum muslimin memperhatikan ketentuan tersebut di atas, maka dakwah Islam akan berhasil dengan baik. Dakwah pada abad modern sekarang ini, tidak bisa lagi hanya dengan jalan menggembor-gemborkan kehebatan agama Islam, tetapi harus bisa dibuktikan kehebatan itu di tengah-tengah masyarakat. Ajaran agama Islam demikian luhur dan agung, sangat disayangkan apabila tidak bisa disampaikan dengan cara yang baik dan berkualitas. Betapapun baiknya materi yang disampaikan, tetapi bila cara penyampainnya tidak baik dan tidak bermutu, maka kebaikan materi ajaran itu akan tertutup, sehingga kebaikan dan kehebatan yang terkandung di dalamnya tidak nampak.
Kebaikan dan kesempurnaan penyampaian materi dakwah harus ditunjang dengan contoh-contoh yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Agama Islam hendaknya dihayati dan diamalkan dengan baik, sehingga jelas wujud dan bentuknya di tengah-tengah kehidupan dunia modern. Aktifitas dakwah yang hanya dilakukan dengan lisan tanpa dibuktikan dengan kenyataan-kenyataan akan mengalami kegagalan yang memalukan.

*) Ketua Lembaga Dakwah NU,

Dosen Pasca Sajana Universitas Indosnesia (UI),

dan aktif dalam berbagai pendidikan dan dakwah