Dalam perjalan sejarah perkembangan Islam, ada dua periode besar, setelah periode Rasulullah s.a.w dan Khulafa’ al-Rasyidun, kontribusi kedua periode ini terhadap perkembangan Islam sangat besar sehingga sampai saat ini masih kita rasakan, dua periode tersebut adalah:

  1. Periode Bani Umayah

Periode Bani Umayah, nama ini dinisbatkan kepada seorang tokoh yang sangat dihormati dikalangan orang-orang Quraisy, yaitu Umayah bin Abd al-Syams bin Abdi Manaf,dan dirintis oleh Muawiyah bin Abi Sofyan, dengan cara menolak pembaiatan Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah keempat setelah khalifah Utsman bin Affan, konflik antara keduanya ini diakhiri dengan perdamaian (tahkim), yang secara politik sangat menguntungkan Muawiyah bin Abi Sofyan. Peroses perdamaian ini dari kedua belah pihak menunjuk satu orang untuk mengumumkan kesepakatan perdamaian dihadapan orang banyak, dari pihak Ali bin Abi Thalib diutus seorang yang sangat terkenal jujur dan wira’I serta awam dalam berpolitik, yaitu Abu Musa al-Asy’ari, sedangkan dari pihak Muawiyah bin Abi Sofyan diutus seorang yang sangat mahir dalam berpolitik,yaitu Amr bin Ash.

Sistem pemerintahan Bani Umayah berbeda dengan sistem pemerintahan sebelumnya. Periode sebelumnya, yaitu periode Khulafa’ al-Rasyidin menerapkan sistem demokrasi dimana pengangkatan khalifah berdasarkan pilihan rakyat secara langsung atau melalui musyawarah dan diambil suara terbanyak. Sedangkan periode Bani Umayah dan periode setelahnya menarapkan sistem kerajaan, yaitu monarki, dimana tahta kerajaan dipegang secara turun temurun. Periode Bani Umayah dalam sejarah Islam berlangsung cukup lama sekitar satu abad dan memindahkan pusat kekuasaannya dari Madinah ke Damaskus (Siria). Khalifah-khalifah besar dinasti ini adalah Muawiyah bin Abi Sofyan (661-680 M), Abd al-Malik bin Marwan (685-705 M), Walid bin Abd al-Malik (705-715 M), Umar bin Abd al-Aziz (717-720 M), dan Hisyam bin Abd al-Malik (724-743 M).

Muawiyah bin Abi Sofyan menjalankan roda kepemerintahannya cukup teroganisasi dengan baik, dia menciptakan perubahan-perubahan besar di dalamnya. Seperti terbentuknya departemen administrasi, sekretariat imperium (pusat) dan sekretariat provensi, dan di masing-masing provensi diangkat seorang pejabat khusus untuk mengurusi masalah pajak yang disebut dengan shahibulkharaj dan Muawiyah juga melanjutkan ekspansi yang terhenti pada masa khalifah Utsman bin Affan dan khalifah Ali bin Abi Thalib. Pada zaman Muawiyah Tunisia dapat ditaklukan, di bagian sebelah timur Muawiyah juga dapat mengusai Khurasan sampai kesungai Oxus danAfganistan sampai ke Kabul. Angkatan lautnya melakukan serangan-serangan ke Ibu Kota Bizantium, Konstantinopel. Ekspansi ke Timur kemudian dilanjutkan pada masa Khalifah Abd al-Malik. Dia mengirimkan tentara menyeberangi sungai  Oxus dan berhasil menaklukan Balkh, Bukhara, Khawarizm, Ferghana, dan Samarkand.Tentaranya Khalifah Abd al-Malik ini bahkan sampai ke India dan dapat mengusai Balukhistan, Sind, dan daerah Punjab sampai ke Maltan.(HarunNasution, 1985:61).

Pergerakan ekspansi ke Barat dilakukan pada masa Khalifah al-Walid bin Abdul Malik, dalam keadaan pemerintahannya yang aman dan stabil ini, ekspedisi meliter ditempuh dari Afrika Utara menuju wilayah Barat Daya, benua Eropa pada tahun 711 M. SetelahThariq bin Ziyad (panglima Islam) dapat menguasai AlJazair dan Maroko, dia dengan pasukannya menyeberangi selat yang memisahkan antara Maroko dengan benua Eropa, dan mendarat di tempat yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar (JabalThariq). Cordova yang menja di ibu kota Spanyol dengan mudah dapat dikusai, kemudian kota-kota yang lain seperti Sevilla, Elvira dan Toledo. Sejarah mencatat di Spanyol inilah peradaban Islam mengalami kemajuan yang sangat pesat, sehingga banyak karya-karya bahasa Arab diterjemah kedalam bahasa Latin dan Yunani. Spanyol dengan mudah dapat ditaklukan karena ada dukungan penuh dari penduduknya, yang sudah lama menderita akibat kedzaliman penguasanya. Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz ekspansi dilanjutkan ke Prancis melalui gunung pirane dibawah komando Abdul Rahman bin Abdullah al-Ghafiqi, namun sayangnya al-Ghafiqi terbunuh sehingga pasukannya terpaksa mundur kembali ke Spanyol.

Dengan keberhasilan tersebut, wilayah kekuasaan Islam pada masa Bani Umayah sangat luas, baik dibagian Timur maupun dibagian Barat, meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arabia, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, Pakistan, Rurkmania, Uzbek, dan Kirgis di Asia Tengah. (Harun Nasution, 1985:62). Keberhasilan lainnya yang dicapai pada periode Bani Umayah adalah, pembangunan diberbagai bidang. Diantaranya, Khalifah Muawiyah membangun pos-pos penjagaan di tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda yang dilengkapi dengan peralatannya, menertibkan angkatan bersenjata dan mencetak mata uang. Khalifah Abdul Malik mengubah mata uang Byzantium dan Persia yang berlaku di daerah-daerah kekuasaan Islam dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab, membenahi administrasi pemerintahan, dan memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi pemerintahan Islam. Khalifah al-Walid membangun panti-panti untuk orang-orang cacat, membangun jalan-jalan raya, pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan, dan masjid-masjid yang megah. (Zakky Mubarak, 2007:121-122).

Masa keemasan periode ini terjadi pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M). Beliau menyatakan bahwa memperbaiki dan meningkatkan negeri yang berada dalam wilayah Islam lebih baik, dari pada menambah perluasan. (Ahmad Amin, 1987: 104). Walapun masa pemerintahannya relatif singkat, namun dia dapat menjalin hubungan baik dengan golongan syiah, memberikan kebebasan terhadap orang lain untuk melaksanakan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing, menarik kembali fasilitas para pejabat yang di anggap berlebihan dan dikembalikan ke kas negara, meringankan beban pajak, menyetarakan kedudukan orang Arab dengan mawali (orang Islam non-Arab) dan lain sebagainya. Ketika Khalifah Umar meninggal dunia tampuk kekuasaan dipegang oleh Yazid bin Abdul Malik dan diteruskan oleh Hisyam bin Abdul Malik, dinasti ini sudah mulai banyak mengalami kemunduran, banyak pemberontakan yang dipelopori oleh Bani Hasyim dan mendapatkan dukungan dari golongan Syiah dan para mawali, hingga akhirnya Bani Umayah dapat diruntuhkan dan diganti oleh dinasti baru, Bani Abbasiyah.

2. Periode Bani Abbasiyah.

Periode ini dinamakan Abbasiyah karena dinasti ini dipelopori oleh Abdullah al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin al-Abbas bin Abdul Muthalib. Dinasti Arab Islam ketiga setelah Khulafa’ al-Rasyidin dan Umayah ini bertahan cukup lama, mulai dari tahun 750 M sampai tahun 1258 M. dan banyak membawa perubahan bagi perkembangan Islam dalam berbagai aspek, khususnya dalam aspek peradaban Islam, inilah yang membedakan Bani Abbasiyah dengan Bani Umayah, yang lebih menekankan pada ekspansi Islam.

Dalam sejarah Islam banyak perbedaan yang menyebutkan pada masa khalifah siapa saja  yang mencapai masa keemasan dalam dinasti Abbasiyah, ada yang mengatakan masa keemasan Bani Abbasiyah terjadi pada masa 10 khalifah, ada yang mengatakan 8 khalifah, 6 khalifah dan 7 khalifah, yaitu; al-Mahdi (775), al-Hadi (785), Harun al-Rasyid (786), al-Makmun (813), al-Mu’tashim (833), al-Watsiq (842), dan al-Mutawakkil (847).

Pada masa al-Mahdi, pertanian mulai meningkat dengan meningkatkan sektor pertanian dengan melalui irigasi dan meningkatnya hasil pertambangan seperti emas, perak, tembaga, timah dan besi. Pada masa Harun al-Rasyid, kekayaan negara banyak digunakan untuk membangun kepentingan sosial, yaitu mendirikan rumah sakit, lembaga pendidikan dokter dan membangun pemandian-pemandian umum. Pada masa al-Makmun fasilitas-fasilitas pendidikan mulai dimaksimalkan, sehingga banyak terjemahan-terjemahan dari berbagai bahasa asing, dan salah satu jasa terbesarnya adalah dibangunnya Bait al-Hikmah, pusat penerjemahan yang dilengakapi dengan perguruan tinggi dan perpustakaan yang sangat besar. Pada masa al-Mu’tashim, orang-orang Turki direkrut menjadi tentara pengawal. Tentara tidak lagi diinstruksikan untuk berperang, melainkan dibina menjadi prajurit-prajurit profesional (Zakky Mubarak, 2007: 123).

Secara umum Bani Abbasiyah adalah masa kejayaan umat Islam sebagai pusat dunia dalam berbagai aspek peradaban. Kejayaan yang dicapainya hampir seluruh aspek kehidupan; administratif pemerintahan dengan biro-bironya; sistem organisasi militer; administrasi wilayah pemerintahan; pertanian, perdagangan, dan industri; islamisasi pemerintahan; kajian dalam bidang kedokteran, astronomi, matematika, geografi, historiografi, filsafat Islam, teologi, hukum (fiqih), etika Islam, sastra, seni, dan penerjemahan; pendidikan, kesenian, arsitektur, meliputi pendidikan dasar (kuttab), menengah, dan perguruan tinggi; perpustakaan dan toko-toko buku, media tulis, seni rupa, seni musik, dan arsitek. (Dedi Supriyadi, 2008: 129-130).

Pada periode ini banyak madzhab-madzhab hukum Islam yang bermunculan sebagai pengaruh dari kebebasan dalam mengungkapkan pendapat dan antusiasme dalam mempelajari ilmu pengetahuan sampai ke akar-akarnya. Diantara imam madzhab yang dikenal dan diakui samapai saat ini adalah; Abu Hanifah (w. 150 H/767 M), Malik bin Anas (w. 178 H/795 M), Muhammad bin Idris al-Syafi’I (w. 204 H/820 M), dan Ahmad bin Hambal (w. 240 H/855 M). (Badri Yatim, 2001: 56-57). Selain nama-nama tersebut masih banyak imam-imam madzhab yang lain, tetapi karena pengikutnya tidak bisa mengembangkan pemikiran Imam madzhabnya dan juga karena kurang sesuainya prinsip-prinsip dalam madzhab terhadap perkembangan zaman, maka pada akhirnya madzhab tersebut hilang tertelan zaman.

Sedangkan deretan ilmuwan muslim yang tetap populer sampai sekarang adalah; Dalam bidang Teologi, Abu Hasan al-Asy’ari (Madzhab teologi Ahl al-Sunah wa al-Jamaah), Abul Huzhail dan al-Nazzam (perumus pemikiran Mu’tazilah). Dalam bidang astronomi, al-Fargani dan al-Fazari (penyusun astrolabe pertama). Dalam bidang kedokteran, Ibnu Sina (penemu system peredaran darah pada manusia), dan al-Razi (orang pertama yang bisa membedakan penyakit cacar dengan measles dan penyusun buku kedokteran anak.

Dalam bidang Optic dikenal nama Abu Ali al-Hasan al-Haitami, populer karena menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya kepada benda yang dilihat. Di bidang Kimia, Jabir bin Hayyan yang berpendapat bahwa logam seperti timah, besi dan tembaga dapat diolah menjadi emas atau perak dengan dicampur zat tertentu. Dalam bidang Matematika, Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (pencipta ilmu aljabar). Dalam bidang sejarah atau geografi, al-Mas’udi. Dalam bidang filsafat, tokoh yang terkenal sampai saat ini, diantaranya; al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibn al-Rusyd, yang telah banyak membuat karya-karya tetang filsafat, logika, jiwa, kenegaraan, etika dan interpretasi terhadap filsafat Aristoteles dan Plato. (A. Razaq Naufal, 1987: 47)

Kejayaan Islam pada masa Bani Abbasiyah mulai memudar disebabkan dua factor, yaitu factor intern dan factor ekstern. Factor intern; Pertama: Kemewahan hidup dikalangan penguasa, ini adalah efek negative dari perkembangan peradaban dan kebudayaan serta kemajuan besar yang dicapai Bani Abbasiyah, sehingga mendorong para penguasa untuk hidup mewah, bahkan setiap Khalifah cendrung ingin hidup mewah melebihi para pedahulunya. Kedua: Perebutan kekuasaan dikalangan keluarga Bani Abbasiyah. Ketiga: Konflik keagamaan, pengaruh dari terjadinya konflik antara Muawiyah dan Ali bin Abi Thalib yang pada akhirnya muncul tiga kelompok umat Islam; Pengikut Muawiyah, pengikut setia Ali (Syi’ah) dan golongan yang tidak setuju dengan kedua-duanya (khawarij). Tiga kelompok ini terus berpengaruh sampai pada periode Bani Abbasiyah. Factor ekstern; Pertama: Banyaknya daerah kekuasaan sehingga tidak dapat terkontrol secara penuh oleh pemerintah pusat, karena kebijakan pemerintah lebih menekankan pada pembinaan peradaban dan kebudayaan, akibatnya banyak provensi-provensi yang melepaskan diri dari genggaman kekuasan Bani Abbasiyah. Kedua: Dominasi Bangsa Turki,Sejak masa Khalifah al-Mu’tashim orang-orang Turki dijadikan tetantara pengawal, kemudian dilatih menjadi tentara profesianal, dan diangkat menjadi panglima-panglima perang, hingga akhirnya orang-orang Turki dapat merebut kekuasaan, walaupun Khalifah masih dipegang oleh Bani Abbas. Khalifah bagaikan boneka yang tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan orang Turkilah yang mengangkat dan menurunkan Khalifah. Ketiga: Dominasi Bangsa Persia, pada mulanya mereka hanya membantu para pembesar Bani Abbasiyah, sesehingga banyak dari mereka yang diangkat menjadi panglima besar. Setelah mereka mempunyai kedudukan yang kuat, para Khalifah Abbasiyah berada di bawah telunjuk mereka dan semua kebijakan ada ditangan mereka. Khalifah Abbasiyah hanya tinggal namanya saja, hanya disebut dalam do’a di atas mimbar-mimbar, dan nama mereka ditulis atas mata uang dinar dan dirham saja.

Selain factor diatas yang dapat mempengaruhi terhadapan kemunduran bahkan kehancuran Bani Abbasiyah, ada satu factor yang sangat berpotensi dalam kehancuran tersebut, yaitu adanya Perang Salib  yang dilancarkan dalam beberapa gelombang dan banyak sekali menelan korban. Pengaruh Perang salib ini terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan. Walaupun Hulagu Khan bukan orang kristen, tapi dia sangat membenci Islam. Kekuatan-kekuatan anti Islam bersatu dengan Bangsa Mongol untuk menghancurkan pusat-pusat peradaban Islam. Baghdad dibumi hanguskan dan peradaban Islam pun di luluhlantahkan.