“Belajar diwaktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar diwaktu senja bagai mengukir di atas air”. Kata-kata inilah yang selalu terdengar dan terus menggema dalam jiwa seorang remaja yang kemampuan otaknya bisa dibilang paspasan, dan hidup di tengah-tengah keluarga yang serba kekurangan, sebut saja namanya “Tabbat”. Dia memutuskan untuk pergi kesebuah pesantren di daerah Jawa Timur guna memperdalam ilmu agama kepada seorang kiai sepuh kharismatik. Tabbat hanya berbekal tekat dan kemauan keras untuk mendalami ilmu agama yang dibawa oleh manusia pilihan, Nabi Muhammad s.a.w. itu, tak ada barang berharga yang dapat ia bawa kepesantren, kendati demikian tak ada sedikitpun rasa sedih yang tergurat diwajahnya, dia memang orang yang sangat tangguh, kemiskinan yang melilit keluarganya, sedikitpun tak dapat menyurutkan keinginannya itu, beruntung di pesantren barunya itu ia langsung diterima oleh teman-temannya tanpa melihat status sosialnya  .

Nama “Tabbat” ini sebenarnya nama julukan yang diberikan oleh kiainya yang sangat ia hormati. Suatu ketika, seperti biasa dikalangan pesantren –termasuk pesantrennya Tabbat– mewajibkan para santrinya untuk melaksanakan shalat Lima waktu secara berjamaah.  Tabbat salah satu santri yang sangat disiplin, dia tidak berani sedikitpun melanggar peraturan pesantren, sebelum adzan Subuh dikumandangkan Tabbat bergegas bangun dari tidurnya, dengan mata sedikit tertutup karena menahan kantuk, Tabbat memaksakan diri pergi ke tempat wudhu’ untuk membasahi wajahnya dengan air wudhu’, selasai wudhu’ Tabbat langsung pergi ke masjid melaksanakan shalat Tahajjud sambil menunggu waktu Subuh tiba. Tak lama kemudian suara adzan saling bersaut-sautan dari masjid ke masjid, musholla ke musholla dan surau ke surau tanda waktu shalat Subuh telah tiba.

Selesai shalat Subuh berjamaah semua santri bangun dari tempat duduk masing-masing  tak terkecuali Tabbat, semua serempak mengambil kitab suci al-Qur’an dengan tanpa menunggu aba-aba, kemudian duduk membentuk halaqah di hadapan seorang kiai sepuh yang sangat masyhur kealimannya itu, para santri secara bergantian membaca al-Qur’an yang disimak langsung oleh sang kiai (sorogan), hingga akhirnya sampailah pada giliran si Tabbat.

Pada saat itu Tabbat hendak  membaca surat al-Lahab, cucuran keringat membasahi tubuhnya, dengan suara terbata-bata  Tabbat memberanikan diri memulai bacaannya.

“ Bismillahir Rahmanir Rahiim, Tabbat yadaa abii lahaibiwwatabbat”, baca si Tabbat.

Bukan lahabiwwatabbat, tapi lahabiwwatab nggak usah ditambah bat”, kata sang kiai menyalahkan bacaan Tabbat.

Tabbat mencoba mengulangi bacaannya, tapi tetap saja dia membaca “watabbat”, sang kiai menegur lagi bacaan santrinya itu, kemudian Tabbat mencoba mengulangi lagi bacaanya sampai lebih dari tiga kali, tapi tetap saja dia membaca “watabbat”, sampai akhirnya sang kiai tersenyum melihat santrinya itu sambil berkata: Kamu ini baca “watab”aja nggak bisa-bisa, kalau gitu mulai sekarang kamu dipaggil tabbat aja.Sejak itulah dia lebih dikenal dan akrab dipanggil Tabbat oleh kiai dan teman-temannya.

Pada suatu hari sang kiai memanggil Tabbat:

“Tabbat!!! Sini bat”. Panggil sang kiai.

“Saya yai”. Jawab si Tabbat, sambil berjalan sedikit berlari mendekati kiainya.

“ tolong bantuin saya, sekarang saya lagi punya masalah,”. Kata kiai.

“Masalah apa  yai dan apa yang dapat aku bantu?”. Tanya Tabbat.

“Tabbat! Saya sekarang punya istri lagi –sang kiai sudah lama ditinggalkan istrinya pulang kerahmatullah– , umurnya baru menginjak 17 tahun, sedangkan umur saya  sudah lebih dari 50 tahun,jadi saya nggak bisa memberi dia nafkah bathin”.Kata sang kiai menjelaskan masalahnya.

“Terus apa yang dapat aku bantu yai?”. Tanya Tabbat

“Kamu sekarang pergi kerumah kiai A (seorang kiai yang dikenal ahli dalam masalah ilmu hikmah), ceritakanlah  masalahku ini padanya, terus mintalah solusinya”. Terang sang kiai.

“Baik yai”. Jawab si Tabbat.

Tanpa pikir panjang Tabbat bergegas pergi mencari alamat  yang telah ditunjukkan oleh kiainya, di tengah jalan ada suara  yang memanggilnya: “Tabbat kamu mau pergi kemana” , suara panggilan entah dari mana asalnya. Tabbat berusa mencari sumber suara itu disekitarnya, tapi tidak seorangpun yang terlihat disana, dan suara itu muncul kembali “Tabbat aku disebelah kananmu”, Tabbat langsung menoleh kesebelah kanannya, ternyata yang memanggilnya dari tadi adalah sumur.

“Kamu sumur!!! aku ingin pergi kerumah seorang kiai”, Jawab Tabbat.

“Ngapain”, tanya sumur. Kemudian Tabbat menceritakan tujuannya itu.

“och kalau gitu sekalian aku nitip bat ya”  kata sumur.

“Nitip apa?, tanya Tabbat.

“Tolong tanyain ke pak kiai,kenapa sudah bertahun-tahun sumber ini nggak keluar-keluar  air”, jelas sumur.

“Insyaallah”, jawab Tabbat singkat.

Kumudian Tabbat melanjutkan perjalanannya, tidak jauh dari tempat sumur tadi, ada pohon pisang juga menanyai Tabbat hendak pergi kemana, Tabbatpun menjawab  pertanyaannya.

“ Kalau gitu aku nitip bat” , kata pohon pisang.

“Nitip apa?, tanya Tabbat.

“ Tanyaain ke pak kiai, kenapa aku ini ko’ nggak bisa berbuah” jelas pohon pisang

“Ia insyaalah”, jawab Tabbat.

Singkat cerita, Tabbat telah sampai di rumah seorang ahli hikmah yang ditunjukkan kiainya itu, kemudian dia menceritakan masalah yang sedang dihadapi oleh kiainya dan juga masalahnya sumur dan pohon pisang. Sang ahli hikmahpun menjawab semua persoalan yang diajukan oleh Tabbat, Pertama: dibagian paling bawah pohon pisang itu ada emas yang menghalanginya untuk berbuah, ambillah emas itu, kemudian kasih keorang. Kedua: Ada besi kuning yang menutupi sumber sumur itu, kalau besi kuning itu nggak diambil, maka selamanya sumber itu nggak akan ngeluarin air, jadi ambillah besi kuning itu, kemudian kasih keorang.ketiga: Salam kepada kiaimu, istrinya suruh cerain, kemudian nikahin sama orang lain. 

Setelah Tabbat paham dengan semua yang telah disampaikan oleh sang ahli hikmah, Tabbat pamit undur diri untuk kembali ke pesantren tempat ia menimba ilmu, kemudian Tabbatpun pergi meninggalkan gubuk tempat sang ahli hikamah itu tinggal,  sesampainya di tempat pohon pisang yang tadi, Tabbat langsung menyampaikan apa yang telah dijelaskan sang ahli hikmah untuknya, kemudian Tabbat mengambil emas yang ada di pohon pisang itu, sesaat Tabbat terdiam entah apa yang sedang ia pikirkan, “Terus emas itu mau dikasih ke siapa bat?”, tanya pohon pisang menyadarkan Tabbat yang sedang terdiam itu. “Kalau dipikir-pikir akukan juga orang”, jawab Tabbat berharap emas itu bisa jadi miliknya.

“Ya udah ambil kamu aja kalau gitu”, kata pohon pisang.  Senyumpun  sedikit terlihat dari bibir  si  Tabbat sambil memasukkan emas ke dalam sakunya. Tabbat melanjutkan perjalanan pulangnya, sesampainya di tempat sumur yang tidak bisa mengeluarkan air tadi, sumur langsung bertanya “Gimana bat kata sang ahli hikmah?”, tanya sumur penasaran. “katanya ada besi kening nutupin lubang sumbermu itu, kalau ingin airnya bisa keluar besi kuningnya  harus ambil, kemudian kasih keorang ”, terang Tabbat. “ya udah tolong ambilin bat”, pinta si sumur. Tambat langsung masuk ke dalam sumur dan mencari dimana tempat sumber itu, setelah ia menemukannya, ia langsung mengambil besi kuning yang tadi  diceritakannya. “Terus mau dikasih ke siapa bat? Tanya sumur. “aku kan juga orang”, kata Tabbat sambil memasukkan besi kuning itu ke dalam sakunya. Tabbat melanjutkan perjalanan pulangnya.

Setelah Tabbat sampai di pesantren ia langsung menuju rumah kiainya untuk menyampaikan salam dari sang ahli hikmah  tadi.

“Assalamu alaikum”, ucap Tabbat.

“Waalaikum salam, och kamu bat, ayo masuk”, jawab sang kiai. Kemudian Tabbat masuk sambil sedikit membungkukkan badan tanda ta’dzim kepada sang kiai.

“Gimana bat?”, sang kiai memulai pembicaraan

“aa..aanu kiai….. kata sang ahli hikmah, istri yai suruh cerain terus nikahin sama orang lain”, jelas Tabbat agak ketakutan. Mendengar apa yang telah disampaikan si Tabbat sang kiai terdiam sejenak, kemudian berkata:  “ ya udah istri saya  akan saya cerai, tapi dengan siapa saya nikahkan dia!!!!”, ucap sang kiai dengan nada sedikit rendah. Tabbat terbungkam mendengar apa telah yang disampaikan oleh kiainya, lidahnya kaku tak sanggup untuk katakan sesuatu di hadapan kiainya yang sedang dilema. Sejenak suasana hening tak ada satupun yang berbicara, “kalau gitu nikahin kamu aja bat, kamu kan juga orang”, kata sang kiai memecahkan suasana hening itu. Tabbat kaget bukan kepalang mendengar pernyataan kiainya, meskipun sebenarnya ada rasa bahagia terselip dalam hatinya.

Cerita di atas meskipun terkasan seperti dongeng buat anak-anak, tapi di dalamnya terkandung pesan moral khususnya bagi para santri. Tabbat sosok seorang remaja yang hidup dihimpit kemiskinan, tidak mempunyai cita-cita setinggi langit dan tidak pernah sedikitpun terlintas dalam benaknya kalau kelak ia akan menjadi orang sukses, ia jalani hidup apa adanya, melakukan apa yang harus ia lakukan dan menjahui apa  yang memang harus ia jahui, menjadi santri hanya berbekal nekat dan taat kepada sang guru, hingga akhirnya dia mendapatkan  sesuatu yang mungkin orang-orang banyak mengharapkannya, yaitu istri yang cantik dan  harta melimpah.  Sukses selalu!!!