awanAbu Hamid al-Ghazali dan ulama’ lainnya mengklasifikasi dosa dengan dua bagian, dosa besar dan dosa kecil, dan masalah ini menjadi masalah yang kontroversial dikalangan para ulama, ada yang berpendapat ”Tidak ada dosa kecil dan dosa besar, setiap tindakan yang menyimpang dari
menstrim agama Islam adalah dosa besar”, pendapat ini dikatakan lemah, karena Allah s.w.t. berfirman:

{إِنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّر عَنْكُمْ سَيِّئَا تِكُمْ وَنُدْخِلُكُمْ مُدْخَلاً كَرِيْمًا}

“Jika kamu menjahui dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang dilarang, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu pada tempat yang mulia (surga).

Dan firman Allah s.w.t.:

{الَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْا كَبَائِرَ اْلِإثُمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ}

“(Yaitu) orang-orang yang menjahui dosa-dosa besar dan perbuatan keji selain dari kesalahan-kesalahan kecil”.

Dan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim:

dalam redaksi yang lain     {الْصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ  يُكَفِّرْنَ مَا بَيْنَهُنَّ إِنِ اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

كَفَّارَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إِلَّا الْكَبَائِرِ }

Shalat lima waktu dan shalat Jum’at dapat menghapus dosa –antara shalat yang satu dengan shalat yang lainnya– selama menjahui dosa-dosa besar. Dalam redaksi lain: dapat menghapus dosa antara shalat yang satu dengan shalat yang lainnya kecuali dosa besar”.

Dan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar bin Ash

{الْكَبَائِرُ : اْلِإشْرَاكُ بِاللهِ، وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ، وَقَتْلُ النَّفْسِ، وَالْيَمِيْنُ الْغَمُوْسُ}

“Dosa besar adalah menyekutukan Allah, durhaka terhadap kedua orang tua, membunuh dan sumpah dusta”.

Para sahabat dan tabiin berbeda pendapat dalam masalah jumlah dosa besar, ada yang mengatakan empat, lima, enam dan seterusnya. Menurut Ibnu Mas’ud r.a. dosa besar itu ada empat macam:

  1. Menyekutukan Allah s.w.t.
  2. Putus asa dari hukum dan perintah Allah s.w.t.
  3. Putus asa dari rahmat Allah s.w.t.
  4. Merasa aman dari ancaman Allah s.w.t..

Menurut  Ibnu Umar dosa besar itu ada tujuh macam:

  1. Syirik
  2.  Menuduh zina orang yang sudah berkeluarga
  3.  Lari dari medan perang
  4.  Sihir
  5.  Makan riba
  6.  Memakan harta anak yatim
  7.  Membunuh

Sedangkan Abdullah bin Umar bin Ash menambahkan dua macam dosa, yaitu menggali kubur dalam Masjid al-Haram dan durhaka kepada kedua orang tua.

Setelah Ibnu Abbas r.a. mendengar pendapat Ibnu Umar (yang mengatakan dosa besar ada tujuh) berkata: Jumlah dosa besar sampai tujuh puluh itu lebih mendekati benar dari pada cuma sampai tujuh, dan Ibnu Abbas r.a. berkata: Semua larangan Allah s.w.t. adalah dosa besar. Ada yang berpendapat “Setiap Allah mengancam dengan ancaman neraka adalah dosa besar”, dan ada juga yang berpendapat “ Sesungguhnya dosa-dosa besar itu samar, tidak diketahui secara pasti jumlahnya, seperi datangnya Lailatul Qadar, waktu istijabah di hari Jum’at dan shalat wustha, agar manusia selalu merasa takut dan mengharapkan lindungan dari Allah s.w.t., bukan malah merasa takut dengan melakukan dosa yang satu, tapi merasa tenang dengan melakukan dosa yang lain”.

Abu Hamid al-Ghazali memberikan ciri-ciri khusus terkait masalah dosa besar dan dosa kecil, yaitu setiap kesalahan yang dilakukan dengan tanpa adanya rasa takut dan menyesal karena menganggap remeh serta mengabaikan kesalahan tersebut adalah dosa besar, sedangkan dosa kecil adalah melakukan kesalahan tapi masih ada rasa penyesalan karena telah melakukannya.

(Diambil dari Sirojut Thalibin, Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan.

hal: 158-159, jilid I, al-Haramain)