Search

AS 5 DURA

Hanya Untuk Berbagi

UJIAN DALAM PERNIKAHAN


Pernikahan cara paling mujarab untuk memecahkan syahwat, pernikahan satu-satunya cara untuk melestarikan keturunan yang diakui oleh syariat, pernikahan salah satu cara untuk melindungi hati dari maksiat, dan pernikahan salah satu jalan menuju kebahagiaan akhirat. Namun tak sedikit orang yang tidak mau, bahkan takut untuk memasuki gerbang PERNIKAHAN dengan alasan yang beragam. Ada yang beranggapan, pernikahan hanya bisa mendatangkan masalah di atas masalah, dan ada juga yang merasa bahwa pernikahan adalah tali yang mengikat, sehingga ruang gerak terasa sempit dan dibatasi.

Setiap syariat yang diturunkan oleh Allah Shallallahu Alaih wa Sallam untuk umat ini, pasti mempunyai hikmah yang bisa diambil dan juga ujian yang harus diwaspadai. Shalat, zakat, puasa dan haji adalah contoh Syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengandung banyak hikmah, namun tak dapat dipungkiri, dibalik semua itu ada ujian atau cobaan yang harus diwaspadai. Jika tidak, maka kita tidak akan pernah mendapatkan apa-apa dari semua itu, demikian juga dengan pernikahan.

Dalam Adab An-Nikah wa Kasr Asy-Syahwah (26-33), Al Ghazali menjelaskan bahwa setidaknya ujian dalam pernikahan ada tiga macam:

Pertama, sulit mendapatkan harta yang halal. Hal ini tidak mudah dihadapi oleh setiap orang, -apalagi saat ini keadaan perekonomian tidak stabil-, sehingga pernikahan pun menjadi salah satu pemicu untuk meraup pundi-pundi rupiah dari perbuatan keji lagi haram. Karena hal inilah, dia dan keluarganya akan binasa.

Orang yang membujang lebih aman dalam menghadapi ujian ini. Sedangkan orang yang berkeluarga, kebanyakan akan terjerumus dalam keburukan, karena dia selalu memperturuti keinginan istrinya, hingga akhirnya dia akan menjual akhiratnya demi mendapatkan dunia.

Kedua, tidak bisa memenuhi hak istrinya, tidak sabar menghadapi akhlaknya dan tidak sanggup menanggung derita karenanya. Ujian ini lebih mudah dibandingkan ujian yang pertama, karena menghadapinya lebih ringan daripada menghadapi ujian yang pertama.

Memperbaiki akhlak sang istri dan memenuhi kebutuhannya lebih ringan daripada mencari harta yang halal. Namun dalam hal ini juga ada yang perlu diwaspadai, karena sang suami adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungan jawab akan kepemimpinannya. Rasulullah Shallallahu Alaih wa Sallam bersabda, “Cukuplah seseorang berdosa jika dia menyia-nyiakan keluarganya.

Ketiga, istri dan anaknya menyibukkan dia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keduanya menuntut dia untuk mencari dunia, memperbaiki kehidupan keluarga dengan cara mengumpulkan dan menumpuk harta untuk mereka, serta mencari kemewahan dan kemegahan bersama mereka. Setiap sesuatu yang bisa menjauhkan diri dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik berupa istri, harta dan anak, maka ia akan berdampak negatif terhadap pemiliknya. Wallahu a’lam.

 
Featured post

BELAJAR 10 SIFAT ANJING


anjing-herder-3Ada sepuluh sifat yang terpuji dalam diri anjing, dan sepantasnya orang mukmin memilikinya, yaitu:

1. Tidak pernah puas atau kenyang. Ini adalah sifat orang shalih yang tidak pernah merasa puas atau kenyang dengan kebajikan yang telah dia lakukan.

2. Tidak pernah tidur malam kecuali hanya sebentar. Ini adalah sifat orang yang selalu melakukan shalat malam atau Tahajjud.

3. Bila mondar-mandir di depan rumah majikannya (untuk menjaga rumahnya) walaupun sampai seribu kali dalam sehari, sedikitpun dia tidak akan berhenti beristirahat. Ini adalah tanda-tanda orang yang tulus melaksanakan perintah Allah s.w.t..

4. Ketika mati tidak meninggalkan kotoran. Ini adalah tanda-tanda orang zuhud (menganggap remeh dunia). Ketika dia meninggal dunia sedikitpun tidak ada orang yang merasa pernah diambil haknya atau teraniaya, meninggalpun dalam keadaan bersih tanpa meninggalkan fitnah (kerusakan) dibelakangnya.

5. Tempatnya di tanah, yaitu tempat yang paling rendah. Ini adalah tanda-tanda orang yang ridha dengan semua ketentuan Allah s.w.t..

6. Terus mamandangi orang yang melihatnya, sampai dia dilempari makanan. Ini adalah akhlak orang miskin, tidak meminta-minta atau memaksa seseorang agar memberinya.

7. Bila diusir dan ditaburi debu, dia tidak marah dan dendam. Ini adalah akhlaknya orang-orang yang merindukan Allah s.w.t. yang tidak peduli pada keadaan di sekitarnya, buta, tuli dan bisu terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya.

8. Bila tempatnya ditempati oleh yang lain, maka dia akan meninggalkan tempatnya dan pergi mencari tempat lain. Ini adalah perbuatan orang yang terpuji.

9. Bila diberi sesuap makanan, dia akan memakannya dan merasa cukup dengan sesuap makanan tersebut. Ini adalah tanda-tanda orang yang qana’ah.

10. Bila bepergian, tidak membawa bekal. Ini adalah tanda-tanda orang yang tawakkal kepada Allah s.w.t.

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Qs. Aali Imraan [3]: 191)

Referensi: Kasyifatussaja, karya Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar Al Jawi, hal. 73, Darul Kutub Al-Islamiyah.

Habib Husain ( Luar Batang)


luar batang tour2Nama lengkapnya Habib Husain bin Abu Bakar bin Abdullah bin Husain bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Husain bin Abdullah Alaydrus.

Habib Husain bin Abu bakar Alaydrus dilahirkan di Yaman Selatan, tepatnya daerah Hadhramaut, tiga abad yang silam. Beliau dilahirkan sebagai anak yatim, dan dibesarkan oleh seorang ibu. Sehari-harinya beliau hidup dari hasil memintal benang pada perusahaan tenun tradisional. Husain kecil sungguh hidup dalam kesederhanaan.

Sejak kecil sang ibu sudah menitipkan Habib Husain kepada seorang “Alim sufi”; disanalah beliau menerima tempaan thariqah. Diantara murid-murid yang lain, tampak Habib Husain memiliki perilaku dan sifat yang lebih dari teman-temannya. Setelah beranjak dewasa; setiap ahli thariqah senantiasa memiliki panggilan untuk melakukan hijrah, dalam rangka mensyiarkan Islam di belahan bumi Allah. Untuk melaksanakan keinginan tersebut, Habib Husein tidak kekurangan akal, beliau bergegas menghampiri para kafilah dan musafir yang sedang bertransaksi jual-beli di pasar pada setiap hari Jum’at.

Setelah dipastikan mendapatkan tumpangan dari salah seorang kafilah yang hendak bertolak ke India, Habib Husain segera menemui ibunya untuk meminta izin. Walau dengan berat hati, sang ibu harus melepaskan dan merelakan kepergian putranya. Habib Husein mencoba membesarkan hati ibunya dengan berkata,
“Janganlah takut dan berkecil hati ibu, apapun akan aku hadapi. Senantiasa bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesungguhnya Dia bersama kita.”

Menyuburkan kota Gujarat

Hijrah pertama yang disinggahi oleh Habib Husain adalah daratan India, tepatnya di kota Gujarat. Kehidupan kota tersebut bagaikan kota mati, karena dilanda bencana kekeringan dan wabah kolera. Kedatangan Habib Husain di kota tersebut disambut oleh ketua adat setempat, kemudian beliau dibawa menghadap kepala wilayah serta beberapa penasehat paranormal, dan Habib Husein diperkenalkan sebagai titisan dewa yang dapat menyelamatkan negeri itu dari bencana yang sedang melanda.

Habib Husein menyanggupi bahwa dengan pertolongan Allah, beliau akan merubah negeri itu menjadi negeri yang subur, dengan syarat mereka mau mengucapkan dua kalimat syahadat dan menerima Islam sebagai agama. Syarat tersebut juga mereka sanggupi dan berbondong-bondong warga di kota itu belajar agama Islam.

Akhirnya mereka diperintahkan untuk menggali sumur dan membangun sebuah kolam. Setelah keduanya dapat diselesaikan, maka dengan kekuasaan Allah turun hujan yang sangat lebat, membasahi seluruh daratan yang tandus. Sejak itu pula tanah yang kering berubah menjadi subur, dan pemandangan kering kerontang menjadi hijau menyejukkan. Sedangkan warga yang terserang wabah penyakit dapat sembuh dengan cara mandi di kolam tersebut. Demikian kota yang dahulunya mati, kini secara berangsur-angsur masyarakatnya menjadi sejahtera.

Hijrah ke Wilayah Asia Tenggara

Tidak lama kemudian, beliau melanjutkan misi hijrahnya menuju wilayah Asia tenggara, hingga sampai di Pulau Jawa, dan menetap di kota Batavia (sebutan kota Jakarta tempo dulu).

Batavia adalah pusat pemerintah Belanda, dan pelabuhannya Sunda kelapa. Pada tahun 1736 M datanglah Habib Husain bersama para pedagang dari Gujarat di pelabuhan Sunda kelapa. Disinilah persinggahan terakhir dalam menyiarkan Islam. Beliau mendirikan surau sebagai pusat pengembangan ajaran islam. Beliau banyak dikunjungi bukan saja dari daerah sekitarnya, melainkan juga datang dari berbagai daerah untuk belajar islam atau banyak juga yang datang untuk didoa’kan.
Pesatnya pertumbuhan dan minat orang yang datang untuk belajar agama islam ke Habib Husain mengundang kekhawatiran dari pemerintah VOC, yang dipandang akan mengganggu ketertiban dan keamanan. Akhirnya Habib Husein beserta beberapa pengikut utamanya dijatuhi hukuman dan ditahan di penjara Glodok.

Tembok dan terali besi tidak dapat menghentikan peran Habib Husein dalam mensyiarkan Islam. Walau di krangkeng tahanan, beliau tetap mengajarkan ayat-ayat Al Qur’an dan tuntunan Islam. Setelah penguasa hukum Belanda melihat karomah Habib Husain, mereka menjadi gentar dan akhirnya beliau dan para pengikutnya dibebaskan.

Kampung Luar Batang

Gubernur Batavia sangat penuh perhatian kepada Habib Husain. Dia menanyakan apa keinginan beliau, namun beliau menjawab tidak menginginkan apa-apa. Akan tetapi Gubernur tetap menghadiahkan beliau sebidang tanah di kampung baru, sebagai tempat tinggal dan peristirahatan yang terakhir. Habib Husain dipanggil dalam usia muda, ketika berumur kurang lebih 30-40 tahun. Meninggal pada hari Kamis, tanggal 17 Ramadhan 1169 H bertepatan tanggal 27 juni 1756 M. sesuai dengan peraturan pada masa itu, bahwa setiap orang asing harus dikuburkan di pemakaman khusus yang terletak di Tanah Abang,
Sebagaimana layaknya, jenazah Habib Husain diusung dengan kurung batang (keranda). Ternyata sesampainya di pekuburan, jenazah Habib Husain tidak ada dalam kurung batang.

Anehnya jenazah Habib Husain berada di tempat semula. Dalam bahasa lain jenazah Habib Husein keluar dari kurung batang. Pengantar jenazah mencoba kembali mengusung jenazah Habib Husain ke pekuburan yang dimaksud. Namun demikian jenazah Habib Husain tetap saja keluar dan kembali ke tempat semula.
Akhirnya para pengantar jenazah memahami dan bersepakat untuk memakamkan jenazah Habib Husain di tempat yang merupakan rumah beliau tersebut. Kemudian orang-orang menyebutnya “Kampung Baru Luar Batang.” Dan kini lebih dikenal sebagai “Kampung Luar Batang.”

(Dikutip dari buku Riwayat Singkat & Karomah Al Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus, karya Sayyid Abdullah bin Abu Bakar Alaydrus)

Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan Jampes


Kiai_ihsan_jampesIndonesia disamping tanahnya yang subur juga banyak melahirkan ulama-ulama besar yang turut andil dalam penyebaran agama Islam, baik dilevel nasional atau pun internasional. Diantara mereka adalah ulama tersohor dari daerah Kediri, yaitu Syaikh Ihsan Jampes.

Syaikh Ihsan Jampes atau lebih dikenal Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan Al Jamfasi Al Kadiri lahir pada tahun 1901 M. di kampung Jampes, Desa Putih, Kec. Gampengrejo, Kab. Kediri, Jawa Timur, dengan nama asli Bakri, dari pasangan KH. Dahlan dan Nyai. Artimah. KH. Dahlan, ayah Syaikh Ihsan merupakan ulama tersohor pada masanya, beliau-lah yang mendirikan Pondok Pesantren Jampes pada tahun 1886 M. yang kini berganti nama menjadi Pondok Pesantren Al Ihsan.

Nasab dari jalur ayah, Syaikh Ihsan adalah putra KH. Dahlan putra KH. Saleh, seorang kiai yang berasal dari Bogor, Jawa Barat. Leluhurnya masih mempunyai keterkaitan nasab dengan Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) Cirebon. Sementara nasab dari jalur ibu tidak banyak yang bisa diuraikan, hanya saja yang dapat diketahui secara pasti ialah bahwa ibu Syaikh Ihsan adalah Nyai. Artimah putri dari KH. Sholeh Banjarmelati, Kediri, yang juga merupakan mertua dari KH. Ma’ruf pendiri Pondok Pesantren Kedunglo dan KH. Abdul Karim (Kiai Manaf) pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Kehidupan Awal dan Rihlah Ilmiah

Ihsan kecil atau sebut saja Bakri, tumbuh kembang di lingkungan pesantren bersama ayahnya, dan diasuh oleh neneknya, Isti’anah. Karena ketika dia berusia 6 tahun, kedua orangnya memutuskan untuk bercerai. Semasa kecil, Bakri memang memiliki kecerdasan luar biasa dan daya ingat yang kuat. Dia juga rajin membaca, baik buku-buku agama atau yang lainnya. Selain itu, satu hal yang nyeleneh dari dirinya adalah kegemarannya menonton pertunjukan wayang. Di mana pun pertunjukan wayang digelar, Bakri kecil pasti mendatanginya. Karena kecerdasan dan penalarannya yang kuat, dia paham betul berbagai karakter dan cerita pewayangan. Bahkan, dia pernah menegur dan berdebat dengan seorang dalang yang pertujukan wayangnya melenceng dari pakem.

Kegemaran Bakri kecil yang membuat risau keluarganya adalah berjudi. Meski judi yang dilakukan Bakri hanyalah untuk membuat kapok para pejudi dan bandar judi, tetap saja keluarganya menganggap bahwa perbuatannya itu mencoreng nama baik keluarga. Suatu hari neneknya, Nyai Isti’anah yang merasa prihatin dengan tingkah laku cucu kesayangannya itu, mengajaknya berziarah ke makam para leluhurnya, khususnya makam K. Yahuda di Lorog Pacitan. Di makam K. Yahuda inilah Nyai Isti’anah mencurahkan segala kekhawatiran dan keprihatinannya atas cucunya itu.

Konon, beberapa hari setelah itu, Bakri kecil bermimpi didatangi oleh K. Yahuda. Dalam mimpinya, K. Yahuda meminta Bakri untuk menghentikan kebiasaan berjudinya. Tetapi karena Bakri tak mengindahkan permintaan itu, K. Yahuda pun bersikap tegas. Dia mengambil batu dan memukulkannya ke kepala Bakri hingga hancur berantakan. Mimpi inilah yang membuat Bakri meninggalkan judi; sejak saat itu dia lebih sering menyendiri dan merenungkan arti kehidupan di dunia yang fana ini.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia keluar dari kediamannya dalam rangka rihlah ilmiah, memburu ilmu dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Diantara pesantren yang sempat disinggahi oleh Bakri adalah Pesantren Bendo Pare Kediri asuhan KH. Khozin (paman Bakri sendiri), Pondok Pesantren Jamseran Solo, Pondok Pesantren asuhan KH. Dahlan Semarang, Pondok Pesantren Mangkang Semarang, Pondok Pesantren Punduh Magelang, Pondok Pesantren Gondanglegi Nganjuk dan Pondok Pesantren Bangkalan Madura asuhan KH. Kholil, sang ‘Guru Para Ulama’.

Berdakwah melalui Pesantren

Pada 1926 M. Bakri menunaikan ibadah haji. Sepulang dari Makkah namanya diganti menjadi Ihsan. Dua tahun kemudian, bertepatan pada tahun 1928 M, KH. Muhammad Dahlan, ayah sekaligus gurunya dipanggil oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Saat itu Ihsan belum menikah sehingga dia belum bersedia menggantikan ayahnya untuk mengasuh Pondok Pesantren Jampes. Untuk sementara pesantren diasuh oleh pamannya, KH. Khalil hingga tahun 1932 M. Mulai tahun 1932 inilah Syeikh Ihsan bersedia untuk mengasuh secara langsung pesantren peninggalan ayahnya itu.

Berkat kepiawaian dan kerja keras Syeikh Ihsan, pesantren yang diasuhnya mengalami perkembangan yang pesat, baik dalam segi kualitas atau pun kuantitas. Secara kuantitas -misalnya-, jumlah santri terus bertambah dari tahun ke tahun (semula ± 150 santri menjadi ± 1000 santri) sehingga Pondok Pesantren Jampes harus diperluas hingga memerlukan lahan sekitar 1,5 hektar. Secara kualitas, materi pelajaran juga semakin terkonsep dan terjadwal dengan didirikannya Madrasah Mafatihul Huda pada 1942 M.

Wafat dan Warisan Syaikh Ihsan

Senin, 25 Dzulhijjah 1371 H. atau 16 September 1952 H. Syaikh Ihsan dipanggil oleh Allah SWT, pada usia 51 tahun. Dia meninggalkan ribuan santri, seorang istri dan delapan putra-puteri. Tak ada warisan yang lebih berarti dibandingkan dengan ilmu yang telah dia tebarkan, baik ilmu yang tersimpan dalam suthur (karya-karyanya yang abadi) maupun yang terselip dalam shudur (memori para muridnya).

Beberapa murid Syaikh Ihsan yang mewarisi dan meneruskan perjuangannya dalam berdakwah melalui pesantren adalah: (1) K. Soim pengasuh pesantren di Tangir Tuban; (2) KH. Zubaidi di Mantenan Blitar; (3) KH. Mustholih di Kesugihan Cilacap; (4) KH. Busyairi di Sampang Madura; (5) K. Hambili di Plumbon Cirebon; (6) K. Khazin di Tegal, dan lain-lain.

Kontribusi Syaikh Ihsan yang sangat besar bagi masyarakat muslim di Indonesia, bahkan umat Islam seluruh dunia adalah karya-karyanya. Sudah banyak pakar yang mengakui dan mengagumi kedalaman karya-karya Syaikh Ihsan, khususnya Siraj Ath-Thalibin, terutama ketika kitab ini diterbitkan oleh sebuah penerbit besar di Mesir, Musthafa Al Bab Al Halab. Bahkan Prof. KH. Sa’id Aqil (Ketua PBNU) menyampaikan dalam ceramahnya bahwa Siraj Ath-Thalibin ini juga dikaji di daerah Afrika.

Diantara daftar karya Syaikh Ihsan Jampes:

Tashrih Al Ibarat, syarah (penjelasan) dari kitab Natijat Al Miqat karya KH. Ahmad Dahlan Semarang. Kitab ini mengulas tentang ilmu falak (astronomi).

Siraj Ath-Thalibin, syarah dari kitab Minhaj Al Abidin karya Imam Al Ghazali. Kitab ini mengulas tentang tasawwuf.

Manahij Al Imdad, syarah dari kitab Irsyad Al Ibad karya Syaikh Zainudin Al Malibari. Kitab ini mengulas tentang tasawwuf.

Irsyad Al Ikhwan fi Syurb Al Qahwah wa Ad-Dukhan. Kitab ini mengulas tentang rokok dan kopi.

Sumber:

H.M. Bibit Suprapto (2009). Ensiklopedi Ulama Nusantara. Gelegar Media Indonesia.

http://id.wikipedia.org/wiki/Ihsan_Jampes

Wong Kediri. Net

Orang Tua Mendurhakai Anaknya


anak soleh - CopySeorang lelaki datang menemui Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu dengan membawa anaknya.

“Anakku ini telah durhaka terhadapku,” lapor lelaki itu kepada Umar.

“Tidakkah kau takut kepada Allah karena durhaka terhadap orang tuamu. Sesungguhnya diantara hak orang tua adalah demikian, dan demikian,” kata Umar kepada anak lelaki itu.

“Wahai Amirul Mukminin, apakah seorang anak mempunyai hak atas orang tuanya?” tanya anak itu kepada Umar tanpa menanggapi ucapannya.

“Ya, haknya adalah memilih ibunya (maksudnya adalah seorang ayah tidak menikahi wanita yang rendahan, agar anaknya tidak tercela karenanya), membaguskan namanya, dan mengajari Al Qur`an,” jawab Umar.

“Demi Allah, dia tidak memilih ibuku. Ibuku tidak lain hanya seorang gundik yang di belinya seharga 400 dirham, dia juga tidak membaguskan namaku, karena dia menamaiku Ju’al (kotoran hewan), dan dia tidak mengajarkanku satu ayat pun dari Kitabullah,” terang anak itu kepada Umar.

Mendengar penjelasan itu, Umarpun menoleh kepada ayahnya, dan berkata dengan nada keras, “Kau katakan, anakmu durhaka kepadamu. Sementara kau sendiri telah mendurhakainya sebelum dia mendurhakaimu. Pergilah dariku!” usir Umar.

Niat dalam Shalat, Sunnah apa Bid’ah?


Pengertian dan Tujuan niat

Secara etimologi niat adalah tujuan (Qashd), sedangkan secara terminologi niat adalah menyengaja untuk melakukan sebuah amalan. Jadi, niat dalam shalat adalah menyengaja untuk melakukan shalat dengan menyebutkan jenis shalatnya (wajib atau sunnah) agar bisa membedakannya dengan amalan-amalan yang lain. Tempat niat adalah hati dan dilakukan bersamaan dengan takbiratul ihram.

Kalimat dalam niat bebas, tidak harus menggunakan kata “ushalli”, niat dengan menggunakan kata “nawaitu” juga tidak masalah. Bahkan niat dengan menggunakan bahasa selain bahasa Arab juga boleh, karena niat adalah amalan hati bukan Qira`ah (bacaan dalam shalat), sehingga tidak berpengaruh terhadap keabsahan shalat. -Baca Selanjutnya….>

Sikap Orang Mukmin dalam Menghadapi Fitnah


Oleh: DR. Husain Husain Syahatah*

Fitnah merupakan bagian dari Sunnatullah yang akan terus bergulir hingga Hari Kiamat kelak. Motifnya pun beragam. Diantara fitnah-fitnah itu adalah fitnah syetan, fitnah nafsu Al Ammarah bi As-Su`, fitnah wanita, fitnah harta, fitnah anak, fitnah teraniaya dan terzhalimi, fitnah penjara, fitnah sakit dan mati, serta yang lainnya dari berbagai macam fitnah. Di dalamnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki beberapa hikmah yang agung. Lantas bagaimanakah sikap dan tindakan orang beriman yang mendapatkan cobaan seperti di atas? Inilah yang akan kami bahas dalam pragraf berikut ini.

a. Pengertian Fitnah

Kata fitnah diambil dari kata kerja fatana, yang memiliki arti melebur dan membersihkan sesuatu. Contoh: fatana adz-dzahabu (melebur emas untuk memisahkan yang jelek dari yang bagus). Bentuk jamaknya adalah fitan. Jadi, fitnah adalah cobaan yang menimpa manusia untuk membersihkan dan mengetahui hakikat keimanan, kesabaran dan kekokohannya.

Para ulama, para pakar dan para da’i mendefinisikan fitnah sebagai berikut, Continue reading “Sikap Orang Mukmin dalam Menghadapi Fitnah”

Rahasia Dibalik Petunjuk Rasulullah


tasbih2Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata: Ketika kami berada di hadapan Nabi shallallahu alahi wa sallam, tiba-tiba beliau bersabda, “Pada saat ini akan datang kepada kalian seorang lelaki dari ahli surga, yang jenggotnya meneteskan air wudhu dan sandalnya menggantung di sebelah kirinya.” Lalu datanglah seorang lelaki dengan kriteria tersebut. Lantas dia memberi salam, lalu duduk bersama para sahabat. Keesokan harinya, Rasulullah shallallahu alahi wa sallam bersabda seperti itu, lalu datanglah lelaki tersebut dengan keadaan yang telah beliau sebutkan itu . Pada hari ketiga, beliau juga bersabda demikian. Baca Selanjutnya….

Seorang Nabi Memakan Gunung


GunungAl Kisah: Bahwa para nabi yang bukan sebagai rasul, sebagian mereka ada yang biasa bermimpi, dan ada juga yang biasa mendengar suara namun tidak melihat apa pun. Ada seorang nabi di antara para nabi itu yang biasa bermimpi. Pada suatu malam dia bermimpi, dikatakan kepadanya, “Apabila engkau memasuki waktu pagi, maka makanlah sesuatu yang pertama kali engkau temui, yang kedua sembunyikanlah, yang ketiga terimalah, yang keempat jangan engkau mengganggunya, dan yang kelima larilah darinya.” Lalu esok paginya, yang pertama kali ditemuinya adalah gunung hitam besar, maka dia berhenti dan bingung, dia bergumam, “Rabbku memerintahkan untuk memakan ini.” Kemudian dia bergumam lagi, “Sesungguhnya Rabbku tidak memerintahkan kepadaku sesuatu yang aku tidak sanggup.” Tatkala dia hendak memakannya dan berjalan ke arah gunung itu untuk memakannya, maka semakin dia mendekatinya gunung itu semakin mengecil, lalu tatkala sampai kepada gunung tersebut, dia mendapatinya sebagai satu suapan yang lebih manis daripada madu, lalu dia pun memakannya, dan memuji Allah Taala, kemudian dia berlalu. -Baca Selanjutnya…..>

Blog at WordPress.com.

Up ↑