Search

AS 5 DURA

Hanya Untuk Berbagi

UJIAN DALAM PERNIKAHAN


Pernikahan cara paling mujarab untuk memecahkan syahwat, pernikahan satu-satunya cara untuk melestarikan keturunan yang diakui oleh syariat, pernikahan salah satu cara untuk melindungi hati dari maksiat, dan pernikahan salah satu jalan menuju kebahagiaan akhirat. Namun tak sedikit orang yang tidak mau, bahkan takut untuk memasuki gerbang PERNIKAHAN dengan alasan yang beragam. Ada yang beranggapan, pernikahan hanya bisa mendatangkan masalah di atas masalah, dan ada juga yang merasa bahwa pernikahan adalah tali yang mengikat, sehingga ruang gerak terasa sempit dan dibatasi.

Setiap syariat yang diturunkan oleh Allah Shallallahu Alaih wa Sallam untuk umat ini, pasti mempunyai hikmah yang bisa diambil dan juga ujian yang harus diwaspadai. Shalat, zakat, puasa dan haji adalah contoh Syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengandung banyak hikmah, namun tak dapat dipungkiri, dibalik semua itu ada ujian atau cobaan yang harus diwaspadai. Jika tidak, maka kita tidak akan pernah mendapatkan apa-apa dari semua itu, demikian juga dengan pernikahan.

Dalam Adab An-Nikah wa Kasr Asy-Syahwah (26-33), Al Ghazali menjelaskan bahwa setidaknya ujian dalam pernikahan ada tiga macam:

Pertama, sulit mendapatkan harta yang halal. Hal ini tidak mudah dihadapi oleh setiap orang, -apalagi saat ini keadaan perekonomian tidak stabil-, sehingga pernikahan pun menjadi salah satu pemicu untuk meraup pundi-pundi rupiah dari perbuatan keji lagi haram. Karena hal inilah, dia dan keluarganya akan binasa.

Orang yang membujang lebih aman dalam menghadapi ujian ini. Sedangkan orang yang berkeluarga, kebanyakan akan terjerumus dalam keburukan, karena dia selalu memperturuti keinginan istrinya, hingga akhirnya dia akan menjual akhiratnya demi mendapatkan dunia.

Kedua, tidak bisa memenuhi hak istrinya, tidak sabar menghadapi akhlaknya dan tidak sanggup menanggung derita karenanya. Ujian ini lebih mudah dibandingkan ujian yang pertama, karena menghadapinya lebih ringan daripada menghadapi ujian yang pertama.

Memperbaiki akhlak sang istri dan memenuhi kebutuhannya lebih ringan daripada mencari harta yang halal. Namun dalam hal ini juga ada yang perlu diwaspadai, karena sang suami adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungan jawab akan kepemimpinannya. Rasulullah Shallallahu Alaih wa Sallam bersabda, “Cukuplah seseorang berdosa jika dia menyia-nyiakan keluarganya.

Ketiga, istri dan anaknya menyibukkan dia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keduanya menuntut dia untuk mencari dunia, memperbaiki kehidupan keluarga dengan cara mengumpulkan dan menumpuk harta untuk mereka, serta mencari kemewahan dan kemegahan bersama mereka. Setiap sesuatu yang bisa menjauhkan diri dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik berupa istri, harta dan anak, maka ia akan berdampak negatif terhadap pemiliknya. Wallahu a’lam.

 
Featured post

Ternyata Pemuda yang Bijaksana itu Utusan Allah


Sebelum diutus sebagai rasul, Nabi Muhammad s.a.w. dipercaya untuk meredam gejolak perpecahan diantara kaum Quraisy.

Beliau diminta menjadi penengah diantara kaum, saat fanatisme kesukuan mengakar kuat dalam jiwa mereka.

Beliau ditunjuk untuk mengambil kebijakan yang bisa mempererat hubungan yang mulai retak tergerus keegoisan.

Padahal, saat itu beliau terhitung paling muda diantara mereka, karena saat itu beliau masih berumur 35 tahun.

Situasi itu terjadi saat kaum Quraisy berdebat, siapa yang akan meletakan Hajar Aswad setelah renovasi Ka’bah rampung dilakukan. Karena, masing-masing suku ingin tokoh merekalah yang melakukan tugas mulia itu.

“Besok, siapa yang datang paling pagi, dialah yang berhak meletakkan Hajar Aswad ini,” kata Muhammad membuat mereka semua terdiam.

Keesokan harinya, ternyata orang yang paling pagi datang adalah Nabi Muhammad s.a.w., hingga beliau berhak meletakkan batu Hajar Aswad tersebut.

Namun, hatinya yang lapang dan jiwanya yang bijaksana, menahan beliau untuk melakukan itu seorang diri, beliau menggelar sorban dan meletakkan Hajar Aswad di atasnya, kemudian memanggil tokoh-tokoh dari setiap suku untuk mengangkatnya bersama-sama.

Dan ketegangan yang mengancam persatuan kaum Quraisy itu, bisa diredam dengan sifat mulia dari pemuda tampan, cerdas dan bijaksana, junjungan kita Nabi Muhammad s.a.w.

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah ini. Meski sering kita dengar, namun tetap tak bosan untuk menceritakan dan mendengarkannya.

Antara Karamah dan Tipudaya Syetan


surgaIbnu Al Hajj[1] rahimahullahu berkata: Ada seorang murid yang biasa menghadiri majelis salah seorang guru spiritualnya, lalu dia berhenti, dan tidak lagi mendatanginya. Karena lama tak datang, sang guru pun menanyakan keadaannya. Teman-temannya menjawab, “Dia dalam keadaan sehat.” Maka, diapun mengutus seseorang untuk memanggilnya.

“Mengapa kau tak lagi menghadiri majelisku?” tanya sang guru kepada muridnya.

“Dulu aku hadir agar aku bisa wushul (sampai kepada Allah), dan sekarang aku telah wushul, sehingga aku tidak perlu lagi datang,” jawab sang murid dengan penuh percaya diri.

Lantas gurunya menanyakan kepada sang murid tentang caranya wushul. Dia pun memberitahukan bahwa setiap malam dia shalat dan dibawa ke surga.

“Wahai anakku, janganlah kau masuk ke surga kecuali bersamaku. Sudilah kiranya engkau membawaku agar bisa memasukinya,” ujar sang guru untuk mengetahui kebenaran dari penjelasan muridnya.

“Baik,” jawab sang murid singkat.

Maka, guru itupun menginap di rumahnya. Setelah Isya, datanglah seekor burung yang berhenti di depan rumahnya.

“Burung inilah yang membawaku setiap malam ke surga,” terang sang murid kepada gurunya.

Lantas guru dan murid itupun menaiki burung tersebut, lalu terbang beberapa saat, dan berhenti di suatu tempat yang banyak pepohonan yang rindang. Kemudian sang murid berdiri untuk menunaikan shalat, sementara gurunya hanya diam duduk mengawasinya.

“Wahai guru, mengapa kau tidak shalat pada malam ini?” tanya sang murid penasaran.

“Wahai anakku, ini adalah surga, sementara di surga tidak ada lagi shalat,” jawab sang guru.

Tanpa mempedulikan ucapan sang guru, diapun terus menunaikan shalat, sementara sang guru tetap duduk.

Setelah fajar terbit, burung yang tadi membawanya datang lagi dan turun.

“Marilah kita kembali ke rumah kita,” ajak sang murid kepada gurunya.

“Duduklah! Aku tidak melihat seorang pun yang masuk surga dan keluar darinya,” jawab sang guru untuk menahannya pergi.

Burung itupun mengepakkan sayapnya seraya berkicau keras menunjukkan kepada mereka, bahwa tanah tersebut bergetar karena mereka.

“Marilah kita pergi agar tidak terjadi apa-apa dengan kita,” bujuk sang murid.

“Burung ini menipumu, ia ingin mengeluarkanmu dari surga,”

Lantas sang guru pun membaca Al Qur`an, lalu burung tersebut pergi. Mereka berdua tetap di tempat tersebut sampai matahari terbit dan bersinar terang. Ternyata keduanya berada di tempat sampah dan kotoran.

Melihat kejadian itu, sang guru pun menampar muridnya seraya berkata, “Inikah surga yang kau datangi? Syetanlah yang mengantarmu kemari. Berdirilah dan marilah kita pulang, kemudian hadirlah ke masejlisku bersama teman-temanmu.”[2]

Referensi: Karamatul Auliya`, karya Al-Lalika`i, hal. 31-32.

[1] Ibnu Al Hajj adalah Muhammad bin Muhammad Al Maliki Al Fasy, warga Mesir yang asalnya dari Maghrib (Maroko). Dia menunaikan haji lalu kembali ke Mesir dan menetap di Mesir sampai wafat pada tahun 737 H.

Lih. Ad-Durar Al Kaminah (4/237)

[2] Lih. Al Madkhal, karya Ibnu Al Hajj (3/215-216).

FITNAH YANG MENERPA KELUARGA RASULULLAH S.A.W. DAN AISYAH


aisyahAisyah r.a. isteri Rasulullah s.a.w. mengatakan, bila Rasulullah s.a.w. hendak mengadakan perjalanan, beliau mengundi nama-nama isteri beliau. Siapa pun dari mereka yang namanya keluar, maka dia akan ikut bepergian bersama beliau.

Pada suatu hari, beliau mengundi kami untuk suatu peperangan yang hendak beliau lakukan, lalu keluar undianku, sehingga aku turut serta bersama beliau. Itu terjadi setelah turun ayat hijab. Aku dibawa di dalam sekedup. Kami pun berangkat, hingga Rasulullah s.a.w. selesai dari peperangan tersebut. Lalu kami pun kembali pulang.

Ketika jarak kami telah dekat dengan Madinah, beliau mengumumkan untuk beristirahat malam. Aku keluar dari sekedup saat beliau dan rambongan berhenti. Aku berjalan untuk menceri tempat menunaikan hajat, hingga aku meninggalkan pasukan. Setelah aku selesai menunaikan hajatku, aku kembali menuju rombongan. Namun aku meraba dadaku ternyata kalungku yang terbuat dari batu akik jatuh, sehingga aku kembali untuk mencari kalungku.

Orang-orang yang menuntun untaku datang, mereka menaikkan sekedupku, lalu menaikkannya ke atas tungganganku. Mereka menduga bahwa aku sudah berada di dalam sekedup. Memang masa itu para wanita berbadan ringan, tidak berat. Mereka tidak memakan daging, yang mereka makan hanyalah sesuap makanan hingga orang-orang tidak dapat membedakan berat sekedup ketika diangkat, apakah ada wanita di dalamnya atau tidak. Saat itu aku adalah wanita yang masih muda. Lalu mereka menggiring unta-unta dan berjalan. Namun aku baru mendapatkan kembali kalungku setelah pasukan itu berlalu.

Aku datangi tempat yang semula rombongan berhenti. Namun tak ada seorang pun yang memanggilku dan tidak pula menjawabku. Aku pun kembali ke tempatku saat tadi berhenti, dengan harapan mereka merasa kehilangan aku, lalu kembali ke tempatku. Ketika aku duduk, aku merasa sangat ngantuk hingga akhirnya aku tertidur.

Shafwan bin Al Mu’aththal As-Sulami Adz-Dzakwan bertugas di belakang rombongan pasukan untuk memeriksa barang-barang yang tertinggal. Dia sampai ke tempatku. Dia melihat ada sosok yang sedang tidur, sehingga dia pun menghampiriku. Dahulu sebelum turun ayat hijab, dia pernah melihat wajahku (sehingga dia pun mengenaliku). Aku terbangun dan terkejut karena istirja’-nya ketika dia mengenaliku. Aku pun segera menutupkan penutup wajahku.

Demi Allah, dia tidak berbicara sepatah kata pun, dan aku pun tidak mendengar sepatah kata pun darinya selain istirja’-nya, hingga dia menghentikan dan menundukkan tunggangannya, lalu aku pun menaikinya. Kemudian dia menuntunnya hingga kami dapat menyusul rombongan setelah mereka singgah untuk melepas lelah ketika matahari berada di puncak. Maka, binasalah orang yang binasa. Dan orang yang berperan paling besar dalam menyebarkan tuduhan itu adalah Abdullah bin Ubai bin Salul.

Kami tiba di Madinah, kemudian aku menderita sakit selama satu bulan, sementara orang-orang mulai terpengaruh dengan berita bohong itu. Aku tidak mengetahui apa pun tentang hal itu, dan hal itu membuatku ragu. Aku tidak melihat dari Nabi s.a.w. kelembutan yang biasa aku dapatkan jika aku sakit. Beliau hanya menjenguk aku lalu memberi salam dan bertanya bagaimana keadaanku. Hal itu yang membuatku sedih, namun aku tak mengerti.

Setelah aku berangsur pulih dari sakit, aku keluar bersama Ummu Misthah menuju tempat kami biasa menunaikan hajat, kami tidak keluar kesana kecuali di malam hari. Itu terjadi sebelum kami membuat tempat buang hajat di dekat rumah kami. Kebiasaan kami saat itu adalah kebiasaan orang-orang Arab tradisional, karena merasa terganggu bila ada tempat buang hajat di dekat rumah-rumah kami.

Aku berjalan bersama Ummu Misthah binti Abi Ruhm bin Abdul Muththalib bin Abdi Manaf. Ibunya adalah putri Shakhr bin Amir, bibinya Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan anaknya bernama Misthah bin Utsatsah bin Abbad bin Abdul Muththalib. Aku dan putri Abi Ruhm itu datang menuju rumahku setelah kami selesai dari urusan kami, lalu dia tergelincir karena kainnya tersangkut, sehingga dia mengumpat, “Celakalah Misthah.” Aku berkata, “Sungguh buruk apa yang kau ucapkan tadi. Apakah engkau mencela orang yang pernah ikut perang Badar?” Dia berkata, “Wahai junjunganku, apakah kau belum mendengar apa yang dikatakannya?” Aku balik bertanya, “Memangnya apa yang dikatakannya?”

Dia pun mengabarkan kepadaku tentang berita bohong itu. Hal ini membuatku terasa semakin sakit melebihi sakit yang sudah aku rasakan. Ketika aku kembali ke rumahku, Rasulullah s.a.w. masuk menemuiku, lalu memberi salam dan bertanya, “Bagaimana keadaanmu?” Aku jawab, “Apakah engkau mengizinkanku untuk menemui kedua orang tuaku?” Beliau menjawab, “Boleh.

Saat itu aku ingin mencari kepastian berita itu dari kedua orang tuaku. Rasulullah s.a.w. memberiku izin. Akhirnya aku menemui kedua orang tuaku. Aku menanyakan kepada ibuku, “Wahai ibu, apa yang sedang dibicarakan oleh orang-orang?” Ibuku menjawab, “Wahai putriku, anggaplah ringan urusan yang sedang menimpa dirimu ini. Demi Allah, jarang sekali wanita cantik yang diperisteri seorang lelaki yang mencintainya, yang mempunyai banyak madu (isetri-isetri lainnya), melainkan isteri-isteri lainnya akan membicarakannya.” Aku berkata, “Subhaanallaah, benarkah orang-orang sudah memperbincangkan masalah ini?” Aku pun melewati malam itu sampai pagi sambil menangis, hingga air mata tak bisa lagi menetes karena habis. Aku tidak bisa tidur karenanya. Kemudian pagi harinya aku menangis lagi.

Saat itu, Rasulullah s.a.w. memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid ketika wahyu belum juga turun, untuk meminta pendapat mereka berdua. Usamah memberi isyarat kepada Rasulullah s.a.w. dengan apa yang diketahuinya tentang kebersihan keluarga beliau dari fitnah, dan kecintaan yang diketahuinya dalam diri beliau kepada mereka. Usamah berkata, “Wahai Rasulullah, mereka adalah keluargamu. Dan kami tidak mengetahui kecuali kebaikan.” Sedangkan Ali bin Abi Thalib berkata, “Wahai Rasulullah, Allah tidak akan menyusahkanmu karena masih banyak wanita-wanita lain selain dia. Dan bila engkau menanyakan kepada budak wanita, maka dia akan jujur kepadamu.”

Lalu Rasulullah s.a.w. memanggil Barirah. Beliau bertanya, “Wahai Barirah, apakah kamu melihat pada diri Aisyah sesuatu yang meragukanmu tentangnya?” Barirah menjawab, “Demi Dzat Yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, sama sekali aku tidak pernah melihat cela pada diri Aisyah yang memburukkan pandanganku terhadapnya. Kalaupun aku melihat sesuatu padanya tidak lebih dari sekedar perkara kecil, yaitu dia masih sangat muda, dia pernah ketiduran saat menjaga adonan rotinya, sehingga ada anak kambing yang datang dan memakan adonan tersebut.” Lalu Rasulullah s.a.w. berdiri untuk kemudian meminta pertanggungan jawab Abdullah bin Ubai bin Salul.

Rasulullah s.a.w bersabda di atas mimbar, “Wahai sekalian kaum muslimin. Siapa yang mau membelaku terhadap seseorang yang aku dengar telah menyakiti keluargaku? Demi Allah, aku tidak mengetahui keluargaku melainkan kebaikan semata. Dan sungguh mereka telah menyebut-nyebut seorang laki-laki (Shafwan) yang aku tidak mengetahuinya melainkan kebaikan semata, dimana dia tidak pernah mendatangi keluargaku melainkan selalu bersamaku.” Maka, Sa’d bin Mu’adz Al Anshari berdiri lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku akan membelamu. Jika orang itu dari kalangan suku Aus, kami akan penggal batang lehernya, dan jika dia dari saudara-saudara kami suku Khazraj, perintahkanlah kami, pasti akan kami laksanakan perintahmu itu.”

Setelah mendengar ucapan Sa’d itu, berdirilah Sa’d bin Ubadah pemimpin suku Khazraj, yang sebelumnya dia adalah orang yang shalih, namun hari itu terbawa oleh fanatisme (kesukuan). Dia berkata kepada Sa’d bin Mu’adz, “Demi Allah, engkau tidak akan membunuhnya, dan engkau tidak akan dapat membunuhnya.” Kemudian berdirilah Usaid bin Hudhair, dia adalah sepupunya Sa’d bin Mu’adz. Dia berkata, “Kau dusta, demi Allah, kami pasti akan membunuhnya. Sungguh engkau sudah menjadi munafik karena membela orang-orang munafik.” Maka, terjadilah perang mulut antara suku Aus dan Khazraj hingga hampir saling membunuh, sementara Rasulullah s.a.w. masih berdiri di atas mimbar. Beliau terus berusaha untuk menenangkan mereka, hingga akhirnya mereka terdiam, dan beliau pun diam.

Aku pun menangis sepanjang hariku, hingga air mataku tak bisa lagi menetes karena kering dan aku tidak bisa tidur karenanya, kemudian aku menangis lagi di malam berikutnya, hingga air mataku tak bisa lagi menetes karena kering dan aku tidak bisa tidur karenanya, hingga kedua orang tuaku mengira bahwa tangisan itu telah merobek hatiku. Ketika kedua orang tuaku sedang duduk di dekatku, sementara aku terus saja menangis, tiba-tiba ada seorang wanita Anshar yang meminta izin masuk, lalu aku mengizinkannya, dia pun duduk sambil menangis bersamaku. Ketika dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Rasulullah s.a.w. datang lalu duduk. Namun tidak duduk di dekatku semenjak terjadinya apa yang dikatakan mengenaiku. Sudah sebulan tidak ada wahyu yang turun kepada beliau mengenai perihalku.

Setelah duduk, beliau bersyahadat, kemudian bersabda, “Amma ba’d. Wahai Aisyah, sungguh telah sampai kepadaku berita tentang dirimu begini dan begitu. Jika engkau bersih tidak bersalah, pasti nanti Allah akan membersihkanmu. Namun jika engkau jatuh ke dalam perbuatan dosa, maka mohonlah ampun kepada Allah dan bertobatlah kepada-Nya. Karena seorang hamba bila dia mengakui dosanya lalu bertobat, maka Allah pasti akan menerima tobatnya.”

Setelah Rasulullah s.a.w. menyelesaikan kalimat yang disampaikan, air mataku mengering hingga tak kurasakan setetes pun. Aku katakan kepada ayahku, “Jawablah kepada Rasulullah s.a.w. tentang aku.” Ayahku berkata, “Demi Allah, aku tidak mengetahui apa yang harus aku katakan kepada Rasulullah s.a.w.” Aku berkata kepada ibuku, “Jawablah kepada Rasulullah s.a.w. tentang aku.” Ibuku pun menjawab, “Demi Allah, aku tidak mengetahui apa yang harus aku katakan kepada Rasulullah s.a.w.” Lantas, aku pun berkata –dan saat itu aku masih muda, tidak banyak membaca Al Qur`an-, “Demi Allah, aku telah mengetahui bahwa kalian telah mendengar apa yang diperbincangkan oleh banyak orang, dan kalian pun telah memasukkannya dalam hati kalian lalu membenarkan berita tersebut. Seandainya aku katakan kepada kalian bahwa aku bersih, dan demi Allah, Dia Maha Mengetahui bahwa aku bersih, kalian pasti tidak akan membenarkan aku tentang ini. Seandainya aku mengakui kepada kalian tentang masalah ini, padahal Allah Maha Mengetahui bahwa aku bersih, kalian pasti membenarkannya. Demi Allah, aku tidak menemukan antara aku dan kalian suatu perumpamaan melainkan seperti ayahnya nabi Yusuf ketika dia berkata, ‘Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.’ (Qs. Yuusuf [12]: 18)” Setelah itu, aku pergi menuju tempat tidurku.

Demi Allah, saat itu aku memberitahukan bahwa aku bersih dari tuduhan itu, dan Allah-lah yang membersihkan aku. Akan tetapi demi Allah, aku tidak menduga kalau Allah akan menurunkan wahyu yang akan dibaca tentang masalah yang menimpaku ini. Karena aku merasa terlalu hina bila Allah membahas masalahku yang akan dibaca (tercantum dalam Al Qur`an). Tetapi aku hanya berharap Rasulullah s.a.w. mendapatkan wahyu lewat mimpi yang menyatakan bahwa Allah membersihkan diriku dari tuduhan itu.

Demi Allah, beliau belum menuju tempat duduknya dan belum ada seorang pun dari penghuni rumah yang keluar, hingga Allah s.w.t. mewahyukan kepada kepada Nabi-Nya. Lalu beliau menerima wahyu tersebut sebagaimana biasanya, beliau menerimanya dalam keadaan demam sangat berat diiringi cucuran keringat walaupun di musim dingin karena beratnya firman yang diturunkan kepada beliau.

Setelah selesai wahyu turun kepada beliau, beliau tampak gembira dan tersenyum. Kalimat pertama yang beliau ucapkan adalah, “Bergembiralah, wahai Aisyah, ketahuilah, sesungguhnya Allah telah membersihkanmu (dari tuduhan itu).” Lalu ibuku berkata kepadaku, “Bangkitlah untuk menemui beliau.” Aku berkata, “Demi Allah, aku tidak akan berdiri kecuali untuk Allah, dan tidak akan memuji kecuali kepada Allah. Dialah yang telah menurunkan kebebasanku dari tuduhan itu.” Lalu Allah menurunkan, “Sesungguhnya orang-orang yang menyebarkan berita bohong di antara kalian adalah masih golongan kalian juga …” (Qs. An-Nuur [24]: 11), hingga sepuluh ayat. Allah s.w.t. menurunkan ayat-ayat ini yang menyatakan kebebasanku dari tuduhan itu.

Sementara itu, Abu Bakar yang biasa menanggung biaya hidup Misthah karena kekerabatannya berkata, “Demi Allah, setelah ini aku tidak akan lagi memberi nafkah kepadanya selamanya setelah dia mengatakan apa yang dikatakannya mengenai Aisyah.” Kemudian Allah s.w.t. menurunkan ayat, “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah”, sampai “Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. An-Nuur [24]: 22) Maka Abu Bakar berkata, “Demi Allah, sungguh aku ingin Allah mengampuniku.” Lalu Abu Bakar pun kembali memberi nafkah kepada Misthah sebagaimana sebelumnya. Dan dia berkata, “Aku tidak akan menghentikannya selamanya.”

Rasulullah s.w.t. sering bertanya kepada Zainab binti Jahsy, isteri Nabi s.a.w. tentang aku, dimana beliau bertanya, “Apa yang engkau ketahui?” atau “Bagaimana menurutmu?” Maka Zainab berkata, “Wahai Rasulullah, aku menjaga pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah, aku tidak mengetahui kecuali kebaikan.” Padahal, sebelumnya Zainab adalah orang yang mencelaku dari kalangan isteri-isteri Nabi s.a.w., namun kemudian Allah s.w.t. menjaganya dengan sikap wara. Sementara saudara perempuannya, Hamnah binti Jahsy, memanas-manasinya, sehingga dia pun termasuk golongan mereka yang binasa. (HR. Al Bukhari, no. 4141 dan Muslim, no. 2770. Hadits ini juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah, no. 3180).

Referensi: Syarh Ushul Ahlissunnah Wal Jamaah, karya Imam Al–Lalika`i, no. 2757.

 

KH. MAHRUS ALI LIRBOYO (Ulama Kharismatik yang Rendah Hati)


Siapa yang tak kenal Pondok Pesantren Lirboyo. Pondok pesantren yang telah melahirkan banyak ulama besar yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia bahkan dunia. Pondok pesantren yang konsisten melestarikan tradisi salaf masa ke masa hingga saat ini.
kh-mahrus-ali

Kemajuan dan kesuksesan PP. Lirboyo dalam membina ribuan santri ini tak lepas dari doa dan perjuangan para pendiri dan pengasuhnya. Diantara para pengasuh pondok pesantren yang terletak di daerah Kediri ini adalah KH. Mahrus Ali.Beliau adalah ulama kharismatik di masanya. Selain beliau terkenal ahli hadits, beliau juga salah satu tokoh yang turut berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.

Namun, ada kebiasaan menarik dari sosok beliau yang bersahaja ini dalam memimpin Pondok Pesantren Lirboyo.

Konon, setiap ada santri yang melanggar peraturan pesantren, beliau tidak memanggil dan menegur santri tersebut. Justru, beliau pergi ke dalam masjid dan sujud bersimpuh berderai air mata.

Beliau memohon ampun kepada Allah, karena beliau merasa belum mampu mengemban amanah menjadi seorang pengasuh. Menurut beliau, santri yang melanggar itu karena kelalaian beliau dalam membimbingnya. Subhanallaah

Jadi, tak heran bila jebolan Lirboyo pada masa kepengasuhan beliau banyak yang menjadi ulama besar saat ini. Itu semua tak lepas dari doa tulus dari beliau, KH. Mahrus Ali.

Semoga kita bisa meneladani sikap beliau dalam membimbing dan memimpin pesantren. Amin

Sumber: Ust. Makmun Imran, lulusan Lirboyo Th. 2005

SIFAT WARA KHR. ABDUL MUJIB ABBAS


kh-abdul-mujibSeperti biasa, setelah semua kegiatan pagi, mulai dari shalat Subuh berjamaah, simaan Al Qur’an, kajian kitab Ihya Ulumiddin dan Muhadzdzab, KHR. Abdul Mujib Abbas keliling pesantren yang diasuhnya, yaitu Lembaga Pesantren Al Khoziny Buduran Sidoarjo, guna melihat dan mengontrol keadaan di lingkungan pesantren.

Suatu hari, beliau kaget melihat tumpukan pasir, besi dan beberapa sak semen. Karena beliau tak merasa membeli semua bahan bangunan tersebut.

“Kang, ini siapa yang beli?” tanya beliau sambil menunjuk tumpukan pasir.

“Bantuan dari pemerintah yai,” jawabnya singkat sambil menundukan kepala.

Seketika, rona wajah beliau berubah seakan tak suka. Setelah menghela nafas panjang, beliau berkata:

“Keluarkan semua bahan bangunan ini, tak boleh buat pesantren. Buang ke sungai, atau buat untuk memperbaiki got,” kata beliau dengan nada agak meninggi. Kebetulan di depan pesantren ada got sepanjang jalan hingga masuk ke permukiman tetangga.

Tanpa banyak tanya, para santri pun mengeluarkan semua bahan bangunan tersebut ke luar pesantren.

Semoga kita semua mendapatkan berkahnya dan semoga kelak kita bersamanya. amin

Wanita Lebih Banyak Di Neraka


Benarkah wanita lebih banyak di neraka? Apakah ini bentuk diskriminasi terhadap mereka? Apakah agama ini sangat membenci mereka?

Jawabannya, BENAR wanita lebih banyak di neraka. Agama ini TIDAK mendiskriminasi mereka. Tidak pula membenci mereka. Justru, agama ini menyelamatkan mereka. Agama ini menghormati mereka. Karena agama ini datang saat mereka tak memiliki harga diri lagi. Agama ini datang untuk menyelamatkan mereka dengan ajarannya yang menguntungkan bagi mereka. Lantas kenapa mereka lebih banyak di neraka? Karena sikap mereka banyak yang menyeret mereka ke dalama neraka.

Suatu hari Rasulullah s.a.w. melaksanakan shalat khusuf (gerhana). Selesai shalat, para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tadi kami melihat engkau menerima sesuatu di tempat engkau berdiri. Kami juga melihat engkau menolak sesuatu dari hadapanmu?”

Beliau menjawab, “Tadi surga diperlihatkan kepadaku. Di dalamnya aku memperoleh setandan anggur. Seandainya aku mengambilnya, tentu kalian bisa memakannya selama dunia ini masih ada. Kemudian neraka diperlihatkan kepadaku. Aku belum pernah melihat pemandangan yang lebih mengerikan dibandingkan hari ini. Aku melihat mayoritas penghuninya adalah wanita.”

Mendengar jawaban beliau, para sahabat pun kaget, mereka bertanya, “Mengapa bisa demikian, ya Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Karena mereka (para wanita) sering kufur.” Ada yang bertanya, “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka kufur kepada suami dan kebaikannya. Seandainya kamu berbuat baik terhadap salah seorang dari mereka sepanjang masa, lalu dia melihat satu saja kejelekan darimu, maka dia akan mengatakan: Aku belum pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu.” (HR. Al Bukhari, no. 1052, Muslim, no. 902, Abu Daud, no. 1189 dan An-Nasa’i, 3/46)

BELAJAR 10 SIFAT ANJING


anjing-herder-3Ada sepuluh sifat yang terpuji dalam diri anjing, dan sepantasnya orang mukmin memilikinya, yaitu:

1. Tidak pernah puas atau kenyang. Ini adalah sifat orang shalih yang tidak pernah merasa puas atau kenyang dengan kebajikan yang telah dia lakukan.

2. Tidak pernah tidur malam kecuali hanya sebentar. Ini adalah sifat orang yang selalu melakukan shalat malam atau Tahajjud.

3. Bila mondar-mandir di depan rumah majikannya (untuk menjaga rumahnya) walaupun sampai seribu kali dalam sehari, sedikitpun dia tidak akan berhenti beristirahat. Ini adalah tanda-tanda orang yang tulus melaksanakan perintah Allah s.w.t..

4. Ketika mati tidak meninggalkan kotoran. Ini adalah tanda-tanda orang zuhud (menganggap remeh dunia). Ketika dia meninggal dunia sedikitpun tidak ada orang yang merasa pernah diambil haknya atau teraniaya, meninggalpun dalam keadaan bersih tanpa meninggalkan fitnah (kerusakan) dibelakangnya.

5. Tempatnya di tanah, yaitu tempat yang paling rendah. Ini adalah tanda-tanda orang yang ridha dengan semua ketentuan Allah s.w.t..

6. Terus mamandangi orang yang melihatnya, sampai dia dilempari makanan. Ini adalah akhlak orang miskin, tidak meminta-minta atau memaksa seseorang agar memberinya.

7. Bila diusir dan ditaburi debu, dia tidak marah dan dendam. Ini adalah akhlaknya orang-orang yang merindukan Allah s.w.t. yang tidak peduli pada keadaan di sekitarnya, buta, tuli dan bisu terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya.

8. Bila tempatnya ditempati oleh yang lain, maka dia akan meninggalkan tempatnya dan pergi mencari tempat lain. Ini adalah perbuatan orang yang terpuji.

9. Bila diberi sesuap makanan, dia akan memakannya dan merasa cukup dengan sesuap makanan tersebut. Ini adalah tanda-tanda orang yang qana’ah.

10. Bila bepergian, tidak membawa bekal. Ini adalah tanda-tanda orang yang tawakkal kepada Allah s.w.t.

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Qs. Aali Imraan [3]: 191)

Referensi: Kasyifatussaja, karya Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar Al Jawi, hal. 73, Darul Kutub Al-Islamiyah.

Habib Husain ( Luar Batang)


luar batang tour2Nama lengkapnya Habib Husain bin Abu Bakar bin Abdullah bin Husain bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Husain bin Abdullah Alaydrus.

Habib Husain bin Abu bakar Alaydrus dilahirkan di Yaman Selatan, tepatnya daerah Hadhramaut, tiga abad yang silam. Beliau dilahirkan sebagai anak yatim, dan dibesarkan oleh seorang ibu. Sehari-harinya beliau hidup dari hasil memintal benang pada perusahaan tenun tradisional. Husain kecil sungguh hidup dalam kesederhanaan.

Sejak kecil sang ibu sudah menitipkan Habib Husain kepada seorang “Alim sufi”; disanalah beliau menerima tempaan thariqah. Diantara murid-murid yang lain, tampak Habib Husain memiliki perilaku dan sifat yang lebih dari teman-temannya. Setelah beranjak dewasa; setiap ahli thariqah senantiasa memiliki panggilan untuk melakukan hijrah, dalam rangka mensyiarkan Islam di belahan bumi Allah. Untuk melaksanakan keinginan tersebut, Habib Husein tidak kekurangan akal, beliau bergegas menghampiri para kafilah dan musafir yang sedang bertransaksi jual-beli di pasar pada setiap hari Jum’at.

Setelah dipastikan mendapatkan tumpangan dari salah seorang kafilah yang hendak bertolak ke India, Habib Husain segera menemui ibunya untuk meminta izin. Walau dengan berat hati, sang ibu harus melepaskan dan merelakan kepergian putranya. Habib Husein mencoba membesarkan hati ibunya dengan berkata,
“Janganlah takut dan berkecil hati ibu, apapun akan aku hadapi. Senantiasa bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesungguhnya Dia bersama kita.”

Menyuburkan kota Gujarat

Hijrah pertama yang disinggahi oleh Habib Husain adalah daratan India, tepatnya di kota Gujarat. Kehidupan kota tersebut bagaikan kota mati, karena dilanda bencana kekeringan dan wabah kolera. Kedatangan Habib Husain di kota tersebut disambut oleh ketua adat setempat, kemudian beliau dibawa menghadap kepala wilayah serta beberapa penasehat paranormal, dan Habib Husein diperkenalkan sebagai titisan dewa yang dapat menyelamatkan negeri itu dari bencana yang sedang melanda.

Habib Husein menyanggupi bahwa dengan pertolongan Allah, beliau akan merubah negeri itu menjadi negeri yang subur, dengan syarat mereka mau mengucapkan dua kalimat syahadat dan menerima Islam sebagai agama. Syarat tersebut juga mereka sanggupi dan berbondong-bondong warga di kota itu belajar agama Islam.

Akhirnya mereka diperintahkan untuk menggali sumur dan membangun sebuah kolam. Setelah keduanya dapat diselesaikan, maka dengan kekuasaan Allah turun hujan yang sangat lebat, membasahi seluruh daratan yang tandus. Sejak itu pula tanah yang kering berubah menjadi subur, dan pemandangan kering kerontang menjadi hijau menyejukkan. Sedangkan warga yang terserang wabah penyakit dapat sembuh dengan cara mandi di kolam tersebut. Demikian kota yang dahulunya mati, kini secara berangsur-angsur masyarakatnya menjadi sejahtera.

Hijrah ke Wilayah Asia Tenggara

Tidak lama kemudian, beliau melanjutkan misi hijrahnya menuju wilayah Asia tenggara, hingga sampai di Pulau Jawa, dan menetap di kota Batavia (sebutan kota Jakarta tempo dulu).

Batavia adalah pusat pemerintah Belanda, dan pelabuhannya Sunda kelapa. Pada tahun 1736 M datanglah Habib Husain bersama para pedagang dari Gujarat di pelabuhan Sunda kelapa. Disinilah persinggahan terakhir dalam menyiarkan Islam. Beliau mendirikan surau sebagai pusat pengembangan ajaran islam. Beliau banyak dikunjungi bukan saja dari daerah sekitarnya, melainkan juga datang dari berbagai daerah untuk belajar islam atau banyak juga yang datang untuk didoa’kan.
Pesatnya pertumbuhan dan minat orang yang datang untuk belajar agama islam ke Habib Husain mengundang kekhawatiran dari pemerintah VOC, yang dipandang akan mengganggu ketertiban dan keamanan. Akhirnya Habib Husein beserta beberapa pengikut utamanya dijatuhi hukuman dan ditahan di penjara Glodok.

Tembok dan terali besi tidak dapat menghentikan peran Habib Husein dalam mensyiarkan Islam. Walau di krangkeng tahanan, beliau tetap mengajarkan ayat-ayat Al Qur’an dan tuntunan Islam. Setelah penguasa hukum Belanda melihat karomah Habib Husain, mereka menjadi gentar dan akhirnya beliau dan para pengikutnya dibebaskan.

Kampung Luar Batang

Gubernur Batavia sangat penuh perhatian kepada Habib Husain. Dia menanyakan apa keinginan beliau, namun beliau menjawab tidak menginginkan apa-apa. Akan tetapi Gubernur tetap menghadiahkan beliau sebidang tanah di kampung baru, sebagai tempat tinggal dan peristirahatan yang terakhir. Habib Husain dipanggil dalam usia muda, ketika berumur kurang lebih 30-40 tahun. Meninggal pada hari Kamis, tanggal 17 Ramadhan 1169 H bertepatan tanggal 27 juni 1756 M. sesuai dengan peraturan pada masa itu, bahwa setiap orang asing harus dikuburkan di pemakaman khusus yang terletak di Tanah Abang,
Sebagaimana layaknya, jenazah Habib Husain diusung dengan kurung batang (keranda). Ternyata sesampainya di pekuburan, jenazah Habib Husain tidak ada dalam kurung batang.

Anehnya jenazah Habib Husain berada di tempat semula. Dalam bahasa lain jenazah Habib Husein keluar dari kurung batang. Pengantar jenazah mencoba kembali mengusung jenazah Habib Husain ke pekuburan yang dimaksud. Namun demikian jenazah Habib Husain tetap saja keluar dan kembali ke tempat semula.
Akhirnya para pengantar jenazah memahami dan bersepakat untuk memakamkan jenazah Habib Husain di tempat yang merupakan rumah beliau tersebut. Kemudian orang-orang menyebutnya “Kampung Baru Luar Batang.” Dan kini lebih dikenal sebagai “Kampung Luar Batang.”

(Dikutip dari buku Riwayat Singkat & Karomah Al Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus, karya Sayyid Abdullah bin Abu Bakar Alaydrus)

Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan Jampes


Kiai_ihsan_jampesIndonesia disamping tanahnya yang subur juga banyak melahirkan ulama-ulama besar yang turut andil dalam penyebaran agama Islam, baik dilevel nasional atau pun internasional. Diantara mereka adalah ulama tersohor dari daerah Kediri, yaitu Syaikh Ihsan Jampes.

Syaikh Ihsan Jampes atau lebih dikenal Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan Al Jamfasi Al Kadiri lahir pada tahun 1901 M. di kampung Jampes, Desa Putih, Kec. Gampengrejo, Kab. Kediri, Jawa Timur, dengan nama asli Bakri, dari pasangan KH. Dahlan dan Nyai. Artimah. KH. Dahlan, ayah Syaikh Ihsan merupakan ulama tersohor pada masanya, beliau-lah yang mendirikan Pondok Pesantren Jampes pada tahun 1886 M. yang kini berganti nama menjadi Pondok Pesantren Al Ihsan.

Nasab dari jalur ayah, Syaikh Ihsan adalah putra KH. Dahlan putra KH. Saleh, seorang kiai yang berasal dari Bogor, Jawa Barat. Leluhurnya masih mempunyai keterkaitan nasab dengan Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) Cirebon. Sementara nasab dari jalur ibu tidak banyak yang bisa diuraikan, hanya saja yang dapat diketahui secara pasti ialah bahwa ibu Syaikh Ihsan adalah Nyai. Artimah putri dari KH. Sholeh Banjarmelati, Kediri, yang juga merupakan mertua dari KH. Ma’ruf pendiri Pondok Pesantren Kedunglo dan KH. Abdul Karim (Kiai Manaf) pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Kehidupan Awal dan Rihlah Ilmiah

Ihsan kecil atau sebut saja Bakri, tumbuh kembang di lingkungan pesantren bersama ayahnya, dan diasuh oleh neneknya, Isti’anah. Karena ketika dia berusia 6 tahun, kedua orangnya memutuskan untuk bercerai. Semasa kecil, Bakri memang memiliki kecerdasan luar biasa dan daya ingat yang kuat. Dia juga rajin membaca, baik buku-buku agama atau yang lainnya. Selain itu, satu hal yang nyeleneh dari dirinya adalah kegemarannya menonton pertunjukan wayang. Di mana pun pertunjukan wayang digelar, Bakri kecil pasti mendatanginya. Karena kecerdasan dan penalarannya yang kuat, dia paham betul berbagai karakter dan cerita pewayangan. Bahkan, dia pernah menegur dan berdebat dengan seorang dalang yang pertujukan wayangnya melenceng dari pakem.

Kegemaran Bakri kecil yang membuat risau keluarganya adalah berjudi. Meski judi yang dilakukan Bakri hanyalah untuk membuat kapok para pejudi dan bandar judi, tetap saja keluarganya menganggap bahwa perbuatannya itu mencoreng nama baik keluarga. Suatu hari neneknya, Nyai Isti’anah yang merasa prihatin dengan tingkah laku cucu kesayangannya itu, mengajaknya berziarah ke makam para leluhurnya, khususnya makam K. Yahuda di Lorog Pacitan. Di makam K. Yahuda inilah Nyai Isti’anah mencurahkan segala kekhawatiran dan keprihatinannya atas cucunya itu.

Konon, beberapa hari setelah itu, Bakri kecil bermimpi didatangi oleh K. Yahuda. Dalam mimpinya, K. Yahuda meminta Bakri untuk menghentikan kebiasaan berjudinya. Tetapi karena Bakri tak mengindahkan permintaan itu, K. Yahuda pun bersikap tegas. Dia mengambil batu dan memukulkannya ke kepala Bakri hingga hancur berantakan. Mimpi inilah yang membuat Bakri meninggalkan judi; sejak saat itu dia lebih sering menyendiri dan merenungkan arti kehidupan di dunia yang fana ini.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia keluar dari kediamannya dalam rangka rihlah ilmiah, memburu ilmu dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Diantara pesantren yang sempat disinggahi oleh Bakri adalah Pesantren Bendo Pare Kediri asuhan KH. Khozin (paman Bakri sendiri), Pondok Pesantren Jamseran Solo, Pondok Pesantren asuhan KH. Dahlan Semarang, Pondok Pesantren Mangkang Semarang, Pondok Pesantren Punduh Magelang, Pondok Pesantren Gondanglegi Nganjuk dan Pondok Pesantren Bangkalan Madura asuhan KH. Kholil, sang ‘Guru Para Ulama’.

Berdakwah melalui Pesantren

Pada 1926 M. Bakri menunaikan ibadah haji. Sepulang dari Makkah namanya diganti menjadi Ihsan. Dua tahun kemudian, bertepatan pada tahun 1928 M, KH. Muhammad Dahlan, ayah sekaligus gurunya dipanggil oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Saat itu Ihsan belum menikah sehingga dia belum bersedia menggantikan ayahnya untuk mengasuh Pondok Pesantren Jampes. Untuk sementara pesantren diasuh oleh pamannya, KH. Khalil hingga tahun 1932 M. Mulai tahun 1932 inilah Syeikh Ihsan bersedia untuk mengasuh secara langsung pesantren peninggalan ayahnya itu.

Berkat kepiawaian dan kerja keras Syeikh Ihsan, pesantren yang diasuhnya mengalami perkembangan yang pesat, baik dalam segi kualitas atau pun kuantitas. Secara kuantitas -misalnya-, jumlah santri terus bertambah dari tahun ke tahun (semula ± 150 santri menjadi ± 1000 santri) sehingga Pondok Pesantren Jampes harus diperluas hingga memerlukan lahan sekitar 1,5 hektar. Secara kualitas, materi pelajaran juga semakin terkonsep dan terjadwal dengan didirikannya Madrasah Mafatihul Huda pada 1942 M.

Wafat dan Warisan Syaikh Ihsan

Senin, 25 Dzulhijjah 1371 H. atau 16 September 1952 H. Syaikh Ihsan dipanggil oleh Allah SWT, pada usia 51 tahun. Dia meninggalkan ribuan santri, seorang istri dan delapan putra-puteri. Tak ada warisan yang lebih berarti dibandingkan dengan ilmu yang telah dia tebarkan, baik ilmu yang tersimpan dalam suthur (karya-karyanya yang abadi) maupun yang terselip dalam shudur (memori para muridnya).

Beberapa murid Syaikh Ihsan yang mewarisi dan meneruskan perjuangannya dalam berdakwah melalui pesantren adalah: (1) K. Soim pengasuh pesantren di Tangir Tuban; (2) KH. Zubaidi di Mantenan Blitar; (3) KH. Mustholih di Kesugihan Cilacap; (4) KH. Busyairi di Sampang Madura; (5) K. Hambili di Plumbon Cirebon; (6) K. Khazin di Tegal, dan lain-lain.

Kontribusi Syaikh Ihsan yang sangat besar bagi masyarakat muslim di Indonesia, bahkan umat Islam seluruh dunia adalah karya-karyanya. Sudah banyak pakar yang mengakui dan mengagumi kedalaman karya-karya Syaikh Ihsan, khususnya Siraj Ath-Thalibin, terutama ketika kitab ini diterbitkan oleh sebuah penerbit besar di Mesir, Musthafa Al Bab Al Halab. Bahkan Prof. KH. Sa’id Aqil (Ketua PBNU) menyampaikan dalam ceramahnya bahwa Siraj Ath-Thalibin ini juga dikaji di daerah Afrika.

Diantara daftar karya Syaikh Ihsan Jampes:

Tashrih Al Ibarat, syarah (penjelasan) dari kitab Natijat Al Miqat karya KH. Ahmad Dahlan Semarang. Kitab ini mengulas tentang ilmu falak (astronomi).

Siraj Ath-Thalibin, syarah dari kitab Minhaj Al Abidin karya Imam Al Ghazali. Kitab ini mengulas tentang tasawwuf.

Manahij Al Imdad, syarah dari kitab Irsyad Al Ibad karya Syaikh Zainudin Al Malibari. Kitab ini mengulas tentang tasawwuf.

Irsyad Al Ikhwan fi Syurb Al Qahwah wa Ad-Dukhan. Kitab ini mengulas tentang rokok dan kopi.

Sumber:

H.M. Bibit Suprapto (2009). Ensiklopedi Ulama Nusantara. Gelegar Media Indonesia.

http://id.wikipedia.org/wiki/Ihsan_Jampes

Wong Kediri. Net

Blog at WordPress.com.

Up ↑