Skip to content

MACAM-MACAM NAJIS

14 February 2013

a.   Macam-macam Najis dan Penjelasannya

Najis dibagi menjadi tiga macam, yaitu mughallazhah (berat), mukhaffafah (ringan) dan mutawassithah (tengah-tengah). Penjelasannya sebagai berikut:

1. Najis mughallazhah (berat) yaitu, najisnya anjing, babi dan anaknya anjing atau babi dengan hewan lain yang suci, karena anak ikut kepada salah satu induknya yang rendah atau hina dalam masalah najis, haram disembelih, nikah, dimakan serta tidak sah dijadikan hewan kurban dan aqiqah.

Anak yang dilahirkan dari hubungan manusia dengan hewan yang najis mughallazhah (anjing dan babi), dan anak tersebut berbentuk manusia walaupun hanya bagian atasnya saja, maka hukumnya adalah suci serta ia memiliki kewajiban-kewajiban layaknya manusia pada umumnya kalau sudah mencapai usia baligh dan berakal, karena akal adalah tempat bergantungnya taklif (kewajiban melaksanakan syariat). Dan apabila anak tersebut berbentuk anjing atau babi tapi berakal serta bisa berbicara, maka hukumnya adalah najis mughallazhah menurut pendapat yang mu’tamad (terpercaya). Ibnu Qasim berkata: “Anak tersebut tidak ditaklif walaupun dapat berbicara, tamyiz dan baligh”. Begitu juga dengan anak anjing atau babi yang berbentuk manusia, karena bentuk tidak berpengaruh terhadap suci atau tidaknya hewan tersebut menurut kesepakatan para ulama’.

Anak yang dilahirkan dari hubungan sesama manusia, tapi berbentuk anjing atau babi, maka hukumnya adalah suci. Dan apabila anak tersebut dapat berbicara dan berakal, maka menurut sebagian ulama’ wajib melaksanakan syariat, karena akal adalah tempat bergantungnya hukum (syariat). Begitu juga dengan anak kambing berbentuk manusia yang dapat berbicara dan berakal. Dan boleh menyembelih anak kambing tersebut serta memakannya walaupun ia boleh menjadi khatib jum’at dan imam. Karena itu ada kata-kata “Aku adalah khatib yang dapat disembelih dan dimakan”.

2. Najis mukhaffah (ringan) yaitu, kencingnya bayi laki-laki (bukan bayi perempuan dan banci) yang tidak makan dan minum kecuali air susu. Al-Syarqawi berkata: termasuk dari katagori susu adalah keju, mentega dan sesuatu yang terbuat dari susu, dan belum mencapai usia dua tahun.

3. Najis mutawassithah (tengah-tengah) yaitu, najis yang selain dari najis mughallazhah dan mukhaffafah.

 b.   Pengertian Najis

Najis secara etimologis atau bahasa adalah sesuatu yang dianggap kotor walaupun suci, seperti ludah, mani dan ingus. Dan haram memakannya apabila sudah keluar dari dalam perut, kecuali dibuat obat. Secara terminologis atau istilah najis adalah sesuatu yang dianggap kotor yang dapat mencegah sahnya shalat, dan tidak ada dispensasi. Walaupun ada dispensasi, seperti orang yang tidak memungkinkan untuk menghilangkan hadats dan najis, maka ia tetap berkewajiban untuk melaksanakan shalat, yang biasa disebut dengan shalat penghormatan pada waktu (lihurmatil wakti), tapi juga masih mempunyai kewajiban untuk mengganti shalat tersebut.

c.    Perincian Najis.

 Secara terperinci benda-benda najis ada dua puluh:

1)   Kencing, walaupun kencingnya anak kecil atau bayi. Dan kerikil yang keluar setelah keluarnya kencing juga termasuk najis, apabila diyakini kerikil tersebut terbuat dari kencing.

2)   Madzi, yaitu air yang berwarna agak kekuning-kuningan dan kental. Biasanya keluar ketika syahwat memuncak atau setelahnya yang tidak terasa nikmat, dan juga terkadang keluarnya tidak terasa. Beda halnya dengan keluarnya mani. Madzi tidak keluar kecuali dari orang yang sudah baligh. Dan yang sering keluar madzi adalah wanita ketika terangsang dan syahwatnya memuncak.

3)   Wadi, yaitu air putih yang keruh dan kental. Keluar setelah keluarnya kencing atau ketika membawa sesuatu yang berat, dan ini tidak tertentu pada orang yang sudah baligh saja.

4)    Kotoran (tai) manusia dan yang lainnya, baik kotorannya ikan atau belalang. Tapi boleh menggoreng ikan kecil dalam keadaan hidup tanpa disembelih dan memakannya tanpa dibuang kotorannya, karena kotorannya dima’fu (dimaafkan).

5)   Anjing, walaupun anjing yang sudah dilatih untuk memburu, menjaga rumah dan lain sebagainya.

Hikmah:

Ada sepuluh hal yang terpuji dalam diri anjing, dan sepantasnya orang mukmin memilikinya, yaitu: (1) Tidak pernah puas atau kenyang. Ini adalah sifat orang shalih yang tidak pernah merasa puas atau kenyang dengan kebajikan yang telah ia lakukan. (2) Tidak pernah tidur malam kecuali hanya sebentar. Ini adalah sifat orang yang selalu melakukan shalat Tahajjud. (3) Ketika mondar-mandir di depan rumah (menjaga rumah), walaupun sampai seribu kali dalam sehari sedikitpun ia tidak akan berhenti untuk beristirahat. Ini adalah tanda-tanda orang yang tulus melaksanakan perintah Allah s.w.t.. (4) Ketika mati tidak meninggalkan kotoran. Ini adalah tanda-tanda orang zuhud (menganggap remeh dunia). Ketika ia meninggal dunia sedikitpun tidak ada orang yang merasa pernah diambil haknya atau teraniaya, meninggalpun dalam keadaan bersih tanpa meninggalkan fitnah (kerusakan) dibelakangnya. (5) Tempatnya di tanah, yaitu tempat yang paling rendah. Ini adalah tanda-tanda orang yang ridha dengan semua ketentuan Allah s.w.t. (6) Terus mamandangi orang yang melihatnya, sampai ia dilempari makanan. Ini adalah akhlak orang miskin, tidak meminta-minta atau memaksa seseorang agar memberinya. (7) Apabila diusir dan ditaburi debu, ia tidak marah dan dendam. Ini adalah akhlaknya orang-orang yang merindukan Allah s.w.t. yang tidak peduli pada keadaan di sekitarnya, buta, tuli dan bisu terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya. (8) Apabila tempatnya ditempati oleh yang lain, maka ia akan meninggalkan tempatnya dan pergi mencari tempat yang lain. Ini adalah pekerjaan orang yang terpuji (9) Apabila dikasih sesuap makanan, maka ia akan memakannya dan merasa cukup dengan sesuap makanan tersebut. Ini adalah tanda-tanda orang yang qana’ah (menerima). (10) Apabila bepergian, tidak membawa bekal. Ini adalah tanda-tanda orang yang tawakkal (pasrah) kepada Allah s.w.t.

6)   Babi. Allah s.w.t. berfirman:

 إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi Barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak Menganiaya dan tidak pula melampaui batas, Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(al-Nahl, 16: 115)

Allah s.w.t. menyebutkan lahmal khinzir (daging babi) pada ayat di atas, karena daging babi adalah mu’zhamul maqashid (biasa dijadikan objek untuk dikonsumsi), bukan berarti selain dagingnya boleh dikonsumsi (tidak najis).

7)   Anak anjing atau anak babi dengan hewan yang suci, jika bentuk anak tersebut menyerupai salah satu dari keduanya (ajing atau babi). Kalau tidak, maka hukumnya seperti yang telah dijelaskan di atas.

8)   Maninya anjing, babi dan anaknya yang dihasilkan dari perkawinan dengan hewan yang suci, karena mani ikut pada badan. Apabila badannya suci, maka maninya suci, danapabila badannya najis, maka maninya juga najis.

9)   Air dalam luka yang sudah berubah rasanya, baunya atau warnanya, karena cairan tersebut adalah darah yang sudah berubah.

10) Darah bisul.

11) Nanah.

12) Empedu, maksudnya adalah isi empedu bukan kulitnya, kalau kulitnya   hukumnya adalah mutanajjis yang bisa disucikan, jadi boleh memakannya asalkan empedunya hewan yang boleh dimakan.

13) Minuman yang memabukkan seperti khamer dan lain sebagainya.

14) Sesuatu yang diyakini keluarnya dari ma’iddah (perut), seperti muntah     walupun bentuknya tidak berubah.

15) Susunya hewan yang tidak boleh dimakan, seperti susunya keledai.

16) Bangkai, selain jenazah, bangkainya ikan dan belalang.

17) Darah, kecuali hati dan limpa.

18) Makanan yang dikeluarkan kembali dari perut binatang.

19) Air dari anggota badan yang melepuh yang sudah berubah baunya.

20) Asap dan uap yang ditimbulkan dari perkara najis.

Referensi: Kasyifatussaja. Karya Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi. Hal: 69-75. Darul Kutub al-Islamiyah.

Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 123 other followers